Saturday, 16 January 2021

Pendidik yang Menginspirasi

 

AISEI Writing Club

Menjadi seorang pendidik yang menginspirasi. Kalimat tersebut tentu merupakan sebuah kondisi ideal bagi sebagian besar pendidik. Kenapa seorang pendidik perlu menginspirasi? Siapa yang perlu diinspirasi? Dan bagaimana caranya? Pertanyaan tersebut muncul seiring dengan kalimat tersebut. Untuk itu, mari kita coba untuk melihat hal ini lebih dalam.

Inspirasi bisa kita artikan sebagai suatu ilham yang muncul untuk menjadi penggerak dalam hati, pikiran, dan tindakan. Dengan adanya inspirasi, seringkali kita tergerak untuk menghasilkan ide dan tindakan yang bisa memberikan dampak positif khususnya pada diri kita dan lingkungan sekitar kita. Bagaimana kaitan antara inspirasi dengan seorang pendidik? Seorang pendidik bisa kita sebut sebagai orang yang melatih dan memelihara. Dalam hal ini tentunya kita fokus terhadap latihan dan pemeliharaan terhadap manusia atau peserta didik. Aspek pendidikan ini tentu mencangkup berbagai hal, diantaranya adalah: kognitif, psikomotor, dan afektif.

Menjadi seorang pendidik tentunya tidak bisa kita sebut sebagai hal yang mudah dan tidak bisa pula kita sebut sebagai hal yang mustahil. Tidak mudah karena berkaitan dengan tanggung jawab moral kita terhadap peserta didik.  Seorang pendidik yang akan memberikan pelatihan, berbagi ilmu, dan ikut serta memelihara keterjagaan hal baik yang ingin dicapai dari peserta didiknya, tentu perlu berpikir ulang dalam melangkah dan melakukan sesuatu. Karena rasanya adalah hal yang cukup rancu apabila seseorang memberikan pendidikan bagi orang lain, namun belum menunjukkan usaha yang maksimal dalam menjaga pendidikan bagi dirinya. Dalam artian, seorang pendidik perlu terus mengembangkan hal baik dalam dirinya, baik secara ilmu ataupun perilaku. Oleh karena itu pula, menjadi pendidik belum tentu pula sulit dan rumit, selagi kita sebagai pendidik tetap mau berusaha untuk terus menjadi lebih baik dalam banyak hal, termasuk dalam menginspirasi anak didik.

Ada banyak cara yang bisa kita coba untuk menjadi inspirasi bagi peserta didik. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenali peserta didik kita dengan baik. Kenali potensinya, kenali masalahnya agar kita bisa mencari cara terbaik untuk menyampaikan pendidikan kepada dirinya. Layaknya semua manusia yang ada di dunia ini lahir dengan berbagai macam perbedaan, demikian juga dengan peserta didik yang tentunya hadir dengan berbagai keragaman.

Apabila kita sudah mengenali peserta didik kita dengan baik, kita bisa mulai merancang bersama apa model pendidikan berikut instrument yang tepat untuk kita berikan terhadap mereka. Libatkan peserta didik dalam kegiatan asesmen, agar mereka merasa lebih memiliki terhadap kegiatan pendidikan. Bantulah peserta didik memahami tujuan pendidikan yang akan kita capai bersama. Dengan demikian, Langkah-langkah pendidik dan peserta didik akan terasa lebih selaras. Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, semoga seorang pendidik bisa melangkah lebih siap untuk menjadi inspirasi bagi dirinya, peserta didik, dan orang-orang di sekitarnya.

Biodata Penulis:

Penulis adalah lulusan Universitas Andalas, Padang, Fakultas Sastra, jurusan Sastra Inggris. Penulis sudah mulai mengajar dari tahun 2001 sampai sekarang. Selama 6 tahun ini, penulis mengajar sebagai seorang guru kelas 4 di SD Lazuardi GCS, Cinere, Depok, Jawa Barat. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kegiatan lomba AISEI Writing Club.

Sunday, 10 January 2021

Meraih Asa dan Prestasi di Masa Pandemi

 

Online Learning

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar? Sebuah pertanyaan yang bisa saja mengandung rasa optimis maupun pesimis, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Pertanyaan ini tak ayal muncul dalam pikiran saya. Tentunya bukan hal yang mengherankan karena saya sendiri adalah seorang guru.

Saya sudah mengajar sejak tahun 2001. Awal mula saya menjadi seorang guru, berawal dari saran salah seorang dosen. Saat itu adalah masa saat saya sedang berkonsultasi untuk persiapan skripsi. Beliau mengajukan pertanyaan yang kurang lebih bunyinya "Kamu tidak mau mencoba mengajar?". Pada saat itu saya hanya diam dan akhirnya menjawab dengan ragu "Belum, Bu". Sejujurnya belum terlintas di pikiran sedikitpun untuk menjadi seorang guru. Apalagi latar belakang pendidikan saya sebagai seorang sarjana sastra yang memang tidak terlalu diarahkan untuk menjadi seorang pendidik. Namun pertanyaan itu cukup menggelitik. Saya mulai terpikir, apa rasanya jadi seorang guru, apa saya bisa? Di dorong keingintahuan dan kesukaan saya terhadap tantangan, saya mulai coba-coba untuk mengajar. Dalam pikiran saya, apa salahnya dicoba. Toh, saya juga agak jenuh dengan rutinitas yang saya jalani pada masa itu. Mungkin dengan mengajar, bertemu lingkungan yang berbeda, menghadapi perilaku siswa, dan bertemu orang-orang baru di lingkungan kerja akan menambah wawasan saya.

Alhasil, saya mulai membuat lamaran kerja. Setelah melewati proses rekrutmen, singkat kata, saya berhasil diterima sebagai seorang asisten guru pada sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di kota kelahiran saya. Saya sengaja memilih tempat kerja yang berkaitan dengan bahasa Inggris karena masih berkaitan dengan jurusan yang saya tekuni. Mulailah saya menjalani hari-hari sebagai tenaga pengajar. Mulai dari mempelajari materi yang akan dijelaskan ke siswa, bagaimana cara meng-handle siswa, bekerjasama dalam tim, dan cara menghadapi atasan.

Setahun lamanya saya bekerja disana. Setelah itu, saya mengundurkan diri karena saya memilih untuk menyelesaikan skripsi. Saya merasa agak keteteran apabila menjalani kuliah (walau sudah di semester akhir) sambil bekerja. Dalam masa setahun tersebut, saya merasakan sangat banyak manfaat, pengalaman, dan ilmu yang saya dapatkan. Setelah wisuda, saya mencoba untuk bekerja kembali sebagai guru. Saya berpikir, bidang ini sudah pernah saya jalani, tidak ada salahnya saya perdalam. Sehingga akhirnya, saya menjadi guru hingga saat ini.

Lalu setelah menjadi guru, apakah semua berjalan lancar dan baik-baik saja? Tentu tidak semudah itu. Saya merasakan bagaimana menghadapi siswa yang membantah instruksi saya, complain orangtua, curahan hati siswa berikut orangtuanya, menangani siswa cedera, target pembelajaran yang belum tercapai, gesekan dengan rekan kerja, hingga usaha lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari memberikan les privat. Bisa dibilang cukup berliku-liku. Dalam tenggang waktu sedemikian, semua peristiwa yang memberikan rasa suka duka tersebut, benar-benar menjadi pelajaran yang berharga.

Beberapa kali saya berpindah tempat kerja, dan tiap tempat kerja adalah gudang ilmu yang luar biasa. Mendapat kesempatan training, pelatihan, diskusi, dan lain-lain bisa disebut sebagai tambahan "harta" buat saya sebagai seorang guru. Dan yang paling anyar adalah mendapat pengalaman mengajar di masa pandemi. Kita cukup tahu bahwa pandemi COVID-19 ini memberikan kesulitan bagi banyak orang. Namun, itulah hidup. Selalu ada keseimbangan di dalamnya. Ada sulit, ada mudah. Sulit karena harus mempersiapkan diri untuk lebih menguasai teknologi, update peralihan cara mengajar dari tatap muka langsung menjadi jarak jauh, menggali ilmu baru untuk mengajar secara online, menyiapkan kuota dan gadget yang cukup mumpuni untuk diajak online. Pandemi COVID-19 yang entah kapan akan berakhir ini, membuat hal-hal yang tadinya terasa sulit, mulai jadi terbiasa. 

Saya pribadi, yang tadinya hanya berangkat pagi, mengajar, pulang ke rumah (sesekali dalam setahun ikut pelatihan dari sekolah) mulai kenal dengan klub menulis, online webinar, online training, online workshop, dan aplikasi online lainnya lebih banyak. Perkenalan yang seringkali terjadi tanpa disengaja. Bagaimana bisa disebut tidak sengaja? Karena memang berawal dari ajakan teman dan rasa iseng, penasaran. Mulanya hanya ikut webinar secara online. Lama-kelamaan, rasanya seperti candu. Candu karena semakin banyak belajar, saya jadi merasa semakin kurang ilmu. Saya sering terkagum-kagum melihat narasumber menyampaikan pikiran dan penjelasan dalam beberapa pertemuan online

Akhirnya saya aktif mencari dan mengikuti berbagai pelatihan secara online. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan dimana hanya dengan duduk dan fokus di depan laptop menyala dan didukung jaringan internet, saya bisa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa. Sayapun menjajal berbagai webinar baik dari dalam maupun luar negeri. Webinar dari Cambridge, Oxford, British Council, dan yang lainnya saya jalani sambil terkantuk-kantuk karena pengaruh perbedaan zona waktu. Di sela-sela kesibukan waktu mengurusi siswa secara online, saat jam istirahat kerja seringkali saya gunakan untuk ikut kegiatan-kegiatan tersebut. Demikian juga saat anak dan suami sudah tidur, bahkan saat weekend atau libur sekalipun. Sekitar 1-2 jam masih saya gunakan untuk belajar dan melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan kemampuan saya sebagai seorang guru. Kalau ditanya capek, ya sudahlah. Saya pikir, tidak ada hasil baik yang dicapai tanpa pengorbanan. Yang penting, saya tetap usahakan untuk menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Untungnya suami dan anak juga ikut mendukung apa yang saya lakukan.

Dari berbagai kegiatan itulah, saya menemukan jalan untuk bergabung dengan klub belajar menulis bersama Om Jay, AISEI, dan PSSDM. Tidak saya sangka-sangka, bisa belajar dari para penulis profesional, dapat pelatihan tentang ilmu-ilmu terbaru yang berkaitan dengan pembelajaran untuk siswa dari para ahli. Bahkan jadi ada semangat untuk ikut kegiatan Wardah Inspiring Teacher 2020 bersama Kampus Guru Cikal dan Sekolahmu. Kegiatan ini saya ikuti sejak awal pandemi hingga bulan Desember 2020. Dan pada puncak kegiatan ini, saya berkesempatan untuk berbagi video pembelajaran buatan sendiri dengan para peserta Temu Pendidik Nusantara 7. Dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang mencoba ikut serta dalam lomba menulis di blog yang diselenggarakan oleh AISEI.

Sedikit demi sedikit, mata dan pikiran saya mulai lebih terbuka. Ternyata dunia memang luas dan indah. Tidak terbatas hanya pada sebuah rutinitas. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar. Menulis, membuat podcast, menjadi youtuber, menjadi pembicara pada kegiatan sharing bersama teman. Saya menyesal kenapa tidak menemukannya lebih awal. Namun saya bersyukur bahwa saya tetap bisa meraih kesempatan ini. Dan sekarang, saya sangat menikmati kebebasan menggali potensi diri dan berekspresi seluas-luasnya di luar rutinitas. Kalau boleh menggunakan istilah Stephen Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People, inilah saatnya saya melakukan sharpen the saw. Saya mencoba untuk "mengasah gergaji" agar tidak tumpul dan tetap produktif.

Itulah sepenggal pengalaman saya sebagai seorang guru. Dari apa yang sudah saya lewati, muncul sebuah pikiran bahwa menjadi seorang guru tidak berhenti hanya pada tahap mengajar, tapi tetap perlu banyak belajar. Harapan saya, semoga semua guru bisa meraih apa yang menjadi asanya dalam menjalani profesi sebagai seorang guru, tetap sehat dan sabar dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Saturday, 9 January 2021

Topic: AISEI InspirACTION (Disiplin Positif with Andri Nurcahyani, S.Pd, M.S.)

 

AISEI InspirACTION  (Disiplin Positif with Andri Nurcahyani, S.Pd., M.S.)


Sabtu efektif bersama AISEI InspirACTION kali ini menampilkan Ibu Andri Nurchayani, S.Pd, M.S yang akan membahas tentang disiplin positif. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah SMP dan SMA Sekolah Bogor Raya. Moderator acara ini adalah Ibu Dita Ariandita F. Acara dibuka dengan penjelasan tentang visi misi, para pendiri dan penggerak serta berbagai macam kegiatan AISEI.

Penjelasan dibuka dengan berbagi pendapat tentang rewards dan punishment. Lalu dilanjutkan dengan tontonan tentang penelitian terhadap dua orang anak yang sedang mengerjakan sebuah puzzle. Salah satu dari anak tersebut dijanjikan akan mendapat uang apabila berhasil menyelesaikan tantangan. Sedangkan yang satu lagi, hanya diberi penjelasan bahwa puzzle itu diberikan dalam rangka uji coba produk baru terhadap anak-anak. 

Hasilnya, rewards hanya akan memberikan kepatuhan yang bersifat sementara. Sedangkan untuk jangka panjang, rewards membuat motivasi dan ketertarikan anak menjadi lebih buruk disebabkan sesuatu dilakukan hanya karena ingin mendapat rewards, bukan karena kesadaran. Rewards juga membuat anak menjadi seperti dikontrol ataupun dimanipulasi, dan hal ini sangat tidak menyenangkan. Hal yang ideal adalah melakukannya bersama-sama. Rewards seharusnya datang secara alami, bukan dikecilkan atau direkayasa dengan adanya rewards buatan yang datang dari orang dewasa. Bagaimana kaitan antara rewards, punishment, dan disiplin?

Disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya belajar. Dalam perkembangannya di Indonesia terjadi pergeseran makna hingga menggunakan disiplin sebagai sesuatu untuk menimbulkan kepatuhan. Disiplin menghantarkan seseorang terhadap tujuan karena menghargai nilai-nilai yang berlaku. Setiap tindakan manusia ada motivasi. Dalam disiplin positif, kita harus fokus terhadap motivasi mana yang akan dikembangkan. 

Motivasi terendah manusia adalah menghindari hukuman. Tentunya ini bukanlah tujuan disiplin positif. Disiplin positif tidak ditanamkan untuk menciptakan orang-orang yang takut dihukum. Takut terhadap hukuman masih merupakan motivasi eksternal. Motivasi lain adalah untuk mendapatkan imbalan dari orang lain. Hal ini juga masih merupakan sebuah bentuk manipulasi. Padahal disiplin positif harusnya datang dari diri sendiri karena sebuah kesadaran tentang penghargaan terhadap diri sendiri. Jadi hal yang ingin dicapai dari sebuah disiplin positif adalah mempercayai dan menghargai nilai-nilai positif yang akan dicapai oleh diri sendiri. Ibarat kata, dalam disiplin positif, tanpa hukuman, pujian, maupun hadiah, seseorang akan tetap melaksanakan suatu tindakan secara disiplin.

Untuk menerapkan disiplin perlu ada strategi tertentu. Strategi ini berkaitan dengan lima posisi kontrol. Posisi pertama adalah guru sebagai penghukum. Bila ada anak yang melakukan pelanggaran, maka guru akan bersikap marah, menyakiti, dan menyindir anak tersebut. Akibatnya anak akan cenderung memberontak dan menempatkan guru di luar dunia berkualitas. 

Posisi kedua adalah guru sebagai pembuat rasa bersalah. Beda posisi ini dengan yang pertama adalah cara bertutur kata dan intonasi yang lebih halus. Guru akan melakukan ceramah dan mengatakan sesuatu yang memunculkan rasa bersalah pada siswa dan menggunakan moral untuk menghukum. Hasilnya siswa akan cenderung menyangkal dan berbohong karena merasa dirinya jelek dan bersalah. Siswa menempatkan guru dalam dunia berkualitas. Posisi ini terkadang lebih berbahaya dari pada seorang penghukum disebabkan self esteem anak yang akan menurun dalam jangka waktu panjang. 

Posisi ketiga adalah guru sebagai teman. Dalam hal ini respon siswa akan lebih positif. Intonasi guru juga lebih ramah. Guru sebagai teman akan menggunakan nada yang ramah sebagai teman, suka memuji, bercanda, dan meminta anak melakukan sesuatu untuk guru. Hal ini masih bersifat eksternal yang hasilnya adalah ketergantungan terhadap guru tersebut. Siswa meletakkan guru sebagai sesuatu yang sangat penting dalam dunia yang berkualitas. Siswa melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pujian dari guru tersebut. Apabila suatu saat guru memberikan hukuman terhadap siswa ini, maka akan muncul inkonsistensi dalam pandangan siswa.

Posisi keempat adalah guru sebagai pemantau. Hal yang perlu dipersiapkan dalam menerapkan disiplin positif adalah menciptakan kesepakatan yang diturunkan dalam sebuah bentuk aturan sebagai teknisnya. Dalam posisi ini, guru hanya akan mengingatkan anak terhadap peraturan yang sudah disepakati.Cara bicara guru akan lebih netral, tidak keras, tidak meminta kasihan, dan tidak sok akrab. Siswa akan menyesuaikan diri terhadap peraturan. Siswa akan menempatkan guru, aturan, dan hukuman dalam dunia berkualitas. Siswa akan cenderung hitung-hitungan dalam melakukan sesuatu.

Posisi kelima adalah guru sebagai manajer. Guru akan bertanya tentang apa yang memuat mereka terlambat. Siswa akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Guru akan mem-follow up dengan menanyakan apa yang diyakini siswa untuk mengatasi hal tersebut. Keyakinan bisa dikaitkan dengan kesepakatan dan aturan. Lalu mencari solusi bersama untuk kesalahan siswa. Siswa akan meletakkan dirinya sendiri sebagai manusia yang berkualitas karena siswa akan belajar dari dirinya sendiri. Tindakan perbaikan yang siswa lakukan akan didasari karena faktor internal, yaitu menghargai diri sendiri dan kontrol diri.

Dari kelima posisi kontrol tersebut, posisi kelima merupakan posisi yang paling ideal. Untuk kasus tertentu, posisi guru sebagai pemantau masih bisa dilakukan bersamaan dengan posisi kelima. Namun posisi pertama hingga ketiga, tidak disarankan karena sebagian besar hasilnya tidak efektif.

Yang tersampaikan dalam sebuah pesan adalah 10% dari kata-kata, 35% dari nada suara, dan 55% dari non verbal/bahasa tubuh. Karena itu guru dan orangtua perlu lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata karena bisa saja apa yang kita lakukan akan memberikan dampak yang panjang terhadap anak.

Selain itu, kerjasama antara guru dan orangtua sangat diperlukan dalam pembentukan karakter siswa. Support dari orangtua sangat tidak kalah pentingnya dalam hal ini. Bagaimanapun pembentukan perilaku belum akan ideal apabila hanya mengandalkan salah satu pihak saja.

Demikian rangkuman kegiatan dan materi sharing kali ini. Sebagaimana biasa, informasi lebih lengkap dapat dilihat pada channel Youtube AISEI Komunitas Pendidik Indonesia

Saturday, 26 December 2020

Review of "Creative Teaching workshop series: Reinventing the Notion of Formative Assessment and Its Application in Learning"

 
Reinventing the Notion of Formative Assessment and Its Application in Learning

Sabtu siang ini, PSSDM kembali menghadirkan salah satu rangkaian dari "Creative Teaching workshop series: Reinventing the Notion of Formative Assessment and Its Application in Learning" bersama Maya Defianty, Ph.D. dan Sri Suryanti, M.Pd.

Berikut ini adalah beberapa catatan yang berhasil Penulis rangkum dan bagikan pada blog ini. Semoga catatan ini bisa memberikan banyak manfaat bagi kita bersama.

Maya Defianty, Ph.D

Assessment berarti menilai sesuatu dengan kriteria. Assessment adalah sesuatu yang biasa kita lakukan dalam keseharian. Untuk melakukan assessment harus ada kriteria yang jelas agar bisa ditentukan apakah seorang siswa butuh bantuan, bagaimana hasil yang dicapai atau lainnya. 

Berkaitan dengan kondisi UN dan AKM, nilai UN biasanya bersifat high stage. Siswa dan guru akan berusaha dengan maksimal agar mencapai hasil yang terbaik. Sementara dalam AKM ditandai dengan kembalinya otoritas guru. Selain itu, assessment berubah menjadi formative. Guru dituntut untuk belajar lebih banyak untuk memahami bentuk formative assessment ini.

Kenapa formative assessment sangat penting untuk dipahami oleh seorang guru? Alasannya adalah apabila pemahaman terhadap hal ini berbeda dengan yang ada di literature, maka akan memungkinkan terjadi kesalahan implementasi dan tujuan dalam pelaksanaannya. 

Istilah formative sendiri sesungguhnya telah lama muncul. Formative disebut juga sebagai testing for learning, sedangkan summative disebut sebagai testing after learning. Pada zaman sekarang, formative assessment dianggap dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. Dalam formative assessment, kita masih bisa melakukan peningkatan dengan memanfaatkan hasil assessment. Sementara dalam summative assessment, bentuknya adalah berupa hasil akhir yang bisa kita laporkan pada orangtua.

Pada saat melakukan formative assessment, kita perlu melakukan feedback agar siswa juga mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Formative assessment memberikan beberapa keuntungan, diantaranya adalah: memotivasi minat belajar siswa, siswa jadi tahu apa yang perlu mereka ketahui, dan meningkatkan kemandirian belajar siswa dan standar yang bisa dicapai oleh siswa.

Assessment sendiri terdiri dari beberapa tipe. Demikian juga dengan assessment instrument. Perbedaan yang ada pada berbagai tipe tersebut hanyalah tipis, namun secara umum persamaan mereka adalah tidak mengandalkan pada satu instrument saja. Seorang guru sebaiknya tidak mengandalkan hanya pada satu tipe assessment saja agar hasil yang diperoleh lebih reliable.

Sebuah tes bisa menjadi formative atau summative, tergantung pada tujuannya dan bagaimana learning evidence (bukti belajar) kita follow upMaka dengan demikian, karakteristik formative assessment adalah bukan tergantung pada instrument, penggunaan data, dan berkelanjutan.

Ada beberapa strategi untuk melakukan formative assessment, diantaranya adalah dengan cara menentukan tujuan belajar dan memilih assessment instrument yang sesuai untuk siswa. Sebagai catatan, pada masa daring, tes bisa saja menjadi kurang preferable untuk siswa disebabkan kekhawatiran siswa melakukan tindakan mencontek. Kecuali apabila bentuk tes tersebut sangat baik. Selanjutnya, lakukanlah feedback, lakukan belajar bersama teman, dan selanjutnya siswa diharapkan bisa melakukan self assessment.

Sri Suryanti, M.Pd

Strategi untuk melakukan formative assessment adalah dengan men-setting tujuan pembelajaran dengan menggunakan platform pilihan, lalu jelaskan rubrik penilaian, lakukan diskusi, pertanyaan, dan tugas pembelajaran, berikan feedback, libatkan siswa juga untuk memberikan feedback, buat siswa merasa memiliki kegiatan pembelajaran tersebut, bisa dengan membuat daftar ceklist tentang kriteria keberhasilan, kriteria terhadap diri sendiri, dan learning gap.

Sesi workshop dengan Ibu Sri Suryati diiringi dengan praktik langsung tentang bagaimana cara menerapkan strategi melakukan formative assessment dalam pembelajaran.

Demikianlah catatan dari kegiatan workshop kali ini. Informasi lebih lanjut tentang kegiatan ini bisa dilihat pada Youtube channel PSSDM Konsultan . 

Thursday, 24 December 2020

Review: Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Mobile dan Blended Learning

 
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Mobile dan Blended Learning (1)

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Mobile dan Blended Learning (2)


Hari pertama libur, setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas pekerjaaan serta limit waktu, akhirnya masa libur sekolah yang bukan hanya dinanti oleh siswa tetapi juga guru datang juga. Bangun pagi, diawali dengan kegiatan sebagai seorang ibu rumah tangga layaknya. Menyiapkan sarapan untuk keluarga, berbenah, bersih-bersih, dan sedikit “omelan” pagi khas seorang ibu kepada anak.

Selanjutnya untuk mengisi waktu libur, tidak ada salahnya tetap update informasi dan pengetahuan yang bermanfaat untu meningkatkan kualitas diri sebagai seorang tenaga pendidik. Hasilnya, review tentang materi webinar hari ini hadir di laman blog. Harapannya semoga pembaca yang telah sudi mampir dan membaca juga bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.

Berikut ini adalah beberapa kesimpulan tentang materi webinar “Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Mobile dan Blended Learning” yang diadakan dalam rangka ulang tahun KOGTIK ke-6

Professor Eko Indrajit

Blended learning dan mobile learning adalah cara-cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Diperkirakan kegiatan ini akan berlanjut untuk pada masa yang akan datang. Hal ini bisa menjadi suatu cara pembelajaran standar yang hadir pada abad 21 dan selanjutnya dengan berbagai modifikasi. Konsep pendidikan dan pengajaran ini bila dijadikan satu, maka akan tetap menghasilkan interaksi dengan anak didik. Interaksi dengan anak didik bisa dilakukan dengan beragam cara, contohnya: secara langsung, atau pun melalui dunia maya. Lingkungan belajar juga mengalami perubahan, kalau pada zaman dahulu hanya di tempat tertentu, saat ini sudah bisa dilakukan dimana saja.

Kenapa kita harus memilih blended learning? Hal ini disebabkan karena kita perlu menyesuaikan dengan karakter anak didik yang sudah terpapar dengan berbagai macam kemajuan teknologi sebelum anak didik tersebut memasuki usia sekolah. Berbeda dengan tenaga pendidik yang pada zamannya lebih dahulu memasuki masa sekolah barulah mendapatkan pengetahuan tentang teknologi. Dengan kondisi seperti ini, menyebabkan tenaga pendidik dan anak didik harus saling menyesuaikan. Cara pengajaranpun diupayakan untuk digabungkan agar mendapatkan model pembelajaran yang ideal. Hal ini dilakukan karena masing-masing model pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihan. Apalagi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang negaranya terbentuk dari banyak kepulauan yang disatukan oleh laut, hingga secara tidak langsung terpisah oleh jarak.  Mau tidak mau, penggunaan gawai menjadi salah satu alternatif komunikasi yang cukup efektif. Dari pengamatan di lapangan, konsumsi masyarakat Indonesia cukup tinggi terhadap pemakaian gawai, sehingga memungkinkan apabila konsep blended learning ini diterapkan dalam bidang Pendidikan.

Konsep blended learning ini bisa dianggap berhasil apabila peserta didik menagalami kesadaran untuk belajar tanpa dipaksa atau disuruh. Seorang pendidik tidak bisa menganggap rancangan pembelajarannya sebagai sesuatu yang terbaik sebelum memahami kebutuhan siswa dan telah melewati tahap ujicoba terhadap siswa. Bila ingin membuat design pembelajaran yang membuat siswa menjadi tertarik untuk belajar tanpa paksaan, maka masukkanlah elemen pembelajaran seperti rewards, tantangan, pujian, dan lain – lain ke dalam konsep pembelajaran. Caranya adalah dengan guru belajar menempatkan diri pada posisi sebagai peserta didik dengan bersikap empati. Guru harus tahu apa yang menjadi minat dan kesukaan anak didik, apa yang membuat anak didik ketagihan dalam mengoperasikan gadget. Hindari merancang proses pembelajaran yag mana tenaga pendidik sendiri tidak pernah menjadi peserta didik pada situasi yang serupa. Ikutilah semua bentuk pembelajaran baik di dalam maupun luar negeri. Pelajari caranya, lakukan uji formatif untuk memastikan apa yang tenaga didik berikan sesuai untuk peserta didik. Karena kebanyakan siswa zaman sekarang bukanlah pendengar yang cepat, tapi kebanyakan mereka adalah pembelajar yang cepat. Karena itu berikanlah pembelajaran yang merangsang keaktifan mereka.

Hesti Astina (EPSON)

Teknologi saat ini bukan lagi menjadi pilihan tetapi sudah menjadi suatu keharusan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Salah satu yang dilakukan oleh EPSON adalah meningkatkan mutu tampilan visualisasi warna. Mengapa warna menjadi penting dalam tampilan sebuah media pembelajaran online? Karena beberapa pembelajaran memang membutuhkan perbedaan warna yang nyata untuk membedakan sebuah informasi. Teknologi untuk layar projector sendiri terdiri atas dua, yaitu DLV dan 3LCD. Saat ini EPSON meluncurkan teknologi 3LCD untuk projectornya. Ada beberapa perbedaan dalam komponen dan cara kerja kedua teknologi di atas, yaitu: 3LCD mampu menghasilkan warna yang lebih cerah, natural dan tidak ada efek rainbow. Ukuran display 3LCD juga sudah sesuai dengan standar kesehatan. Selain itu, EPSON juga sudah meluncurkan wireless projector.

Dr. Dwi Prasetyo

Setiap anak memiliki cita-cita. Untuk mencapai cita-cita tersebut tentu butuh melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran sendiri ada yang dilakaukan dengan proses konvensional yaitu dengan cara datang langsung ke sekolah. Cara lain adalah belajar dengan menggunakan bantuan teknologi. Hal ini disebut electronic learning. Proses belajar seperti ini bisa menjadi menyenangkan. Semua dipelajari secara online. Termasuk pemberian materi. Untuk mendukung proses pembelajaran online ini tentunya dibutuhkan jaringan internet, laptop, dan lain-lain yang berkaitan. Pembelajaran seperti ini disebut juga mobile learning. Dalam pengembangan mobile learning, dibutuhkan modul, video, home, buku manual, audio, quiz. Ada banyak software yang bisa digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran ini. Mobile learning juga punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan mobile learning adalah mudah di akses dan bisa dijadikan media pembelajaran masa depan karena ke depan kita harus berinovasi untuk pembelajaran kita. Sedangkan kekurangannya adalah sangat tergantung dengan kuota, kapasitas memori, dan daya baterai.

Dr. Paidi

SDM sangat penting untuk dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah dengan memberikan pembelajaran yang berkualitas. Pada masa pandemic ini, Sebagian besar pembelajaran dilakukan secara online. Beberapa kendala yang ditemukan dalam sistem pembelajaran online ini adalah berupa kendala di jaringan, kesulitan mempersiapkan handphone dan gadget yang mendukung yang disebabkan oleh kesulitan ekonomi. Efektifitas pembelajaran hanya terjadi sekitar 35%. Dengan adanya permasalahan ketidak mampuan menerapkan pembelajaran full online, khususnya untuk pembelajaran pada sekolah-sekolah berbasis praktik, maka program blended learning akan sangat membantu. Blended learning sendiri artinya adalah penggabungan pembelajaran tatap muka dan online. Ada salah satu solusi yang ditawarkan untuk kegiatan blended learning ini yaitu blended learning berbasis handphone. Salah satu metodenya adalah dengan menggunakan BLISH. Namun sebelumnya, tenaga pendidik tetap harus melakukan step tertentu agar hasil pembelajaran menjadi maksimal.

Demikianlah paparan materi dalam kegiatan webinar hari Kamis, 24 Desember 2020 kali ini. Semoga bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Untuk informasi lebih lanjut, bisa dilihat pada link website dan Youtube berikut ini:

Guru Penggerak Indonesia

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Mobile Learning dan Blended Learning [ AndiAcademy ]

Saturday, 19 December 2020

A Review: Learning Support during Pandemic by Kurnia Mega, M. Psi, Psikolog

Sore ini, kembali mengikuti kegiatan webinar yang diadakan oleh AISEI. Kegiatan webinar AISEIInspirAction ini bukanlah yang pertama. Untuk tema webinar kali ini adalah "Learning Support during Pandemic". Pembicara yang ditampilkan kali ini adalah Ibu Kurnia Mega, M. Psi, Psikolog. Beliau adalah seorang certified play therapist & trainee supervisor. Acara kali ini dipandu oleh Ibu Dian Ariadita F, S.I.Kom, M.Pd.

Ibu Mega pada awalnya adalah seorang guru yang sudah banyak meluangkan waktunya bersama anak-anak berkebutuhan khusus yang kemudian melanjutkan pendidikannya hingga menjadi seorang psikolog. Beliau tergabung dalam PEACE (Psycho Educational Assessment Center of Excellence)

Selama masa pandemi ini banyak masalah yang muncul berkaitan dengan kegiatan belajar anak. Banyak orangtua yang datang untuk berkonsultasi untuk mencari solusi terhadap kesulitan belajar yang dihadapi anak. Karena selama masa pandemi ini, orangtua sebagian besar memiliki waktu yang lebih luas untuk mengikuti kegiatan pembelajaran anak. Hingga akhirnya menyadari bahwa beberapa anak memiliki kesulitan dalam belajar. Beberapa kendala muncul terutama pada anak-anak yang tidak 100% terlihat sebagai anak berkebutuhan khusus (dalam area abu-abu). Kendala lain yang dihadapi adalah kebosanan yang mulai muncul pada anak hingga membuat orangtua makin bingung dalam menghadapi sikap anak terutama yang sudah mulai stress. Di sisi lain, para guru juga sedang mengalami fase adaptasi terhadap hal ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada webinar ini akan dibahas tentang perbedaan gangguan belajar dan kesulitan belajar. Dua hal ini sangat berbeda. Kesulitan belajar adalah kondisi anak tidak bisa belajar dengan baik karena gangguan faktor internal dan eksternal. Anak tidak bisa menunjukkan kapasitas dan potensi yang mereka miliki. Anak-anak dengan kapasitas intelegensi di ambang batas bawah, tentunya akan menemukan kesulitan dalam belajar karena kemampuan berpikir yang kurang menunjang dalam belajar. Kesulitan belajar bisa juga terjadi karena masalah psikologis ataupun emosi. Traumatis dan stress juga bisa menghambat kemampuan anak dalam belajar. Faktor internal bisa disebabkan karena anak mengalami masalah atensi. Masalah utamanya adalah pada bagian memusatkan perhatiannya.

Oleh karena itu, penanganan untuk anak yang memiliki kesulitan belajar harus dikenali terlebih dahulu penyebabnya agar bisa mendapatkan penanganan yang sesuai. Anak-anak ini bisa saja mendapatkan modifikasi kurikulum pada sekolah, membantu pemusatan konsentrasinya, ataupun menangani masalah emosinya. Semua tergantung pada penyebabnya. Bahkan anak-anak dengan kemampuan belajar yang kurang ataupun terlalu cerdas juga perlu mendapatkan perlakuan dan bantuan yang sesuai agar terbantu dalam menghadapi kesulitan dalam belajar. Faktor lingkungan, cara penanganan oleh guru dan orangtua juga ikut berpengaruh terhadap kesulitan belajar.

Sementara itu, gangguan belajar berkaitan dengan neurologis. Biasanya berkaitan dengan mengingat, nalar, matematika, motorik. Anak-anak ini biasanya tidak memilki kapasitas berpikir yang rendah, biasanya cenderung normal karena yang bermasalah adalah cara memprosesnya.

Kasus kesulitan belajar kadang berkaitan dengan motivasi dan minat belajar yang tidak muncul pada saat PJJ ini. Bisa juga disebabkan karena belajar di rumah. Karena terkadang anak butuh setting yang berbeda.Kesulitan ini juga bisa muncul karena sikap negatif terhadap guru. Dalam hal ini, guru juga menemukan kesulitan dalam menyesuaikan kegiatan belajar tatap muka menjadi online, terutama untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Situasi belajar juga sangat berpengaruh terhadap keinginan belajar anak-anak. Orangtua yang baru tahu cara belajar anaknya selama di rumah menyebabkan mereka menjadi stress dan menimbulkan tekanan pada anak. Kebiasaan belajar yang diterapkan oleh orangtua dengan tidak tepat juga menyebabkan kesulitan belajar. Kebiasaan dan cara belajar anak biasanya berbeda-beda. Beberapa orangtua tidak memahami hal ini hingga menerapkan cara dan waktu yang salah dalam menerapkan kebiasaan belajar terhadap anaknya. Anak pada zaman ini cenderung memilki kemampuan otak kanan yang lebih tinggi. Otak kanan cenderung berkaitan dengan kreativitas. Sedangkan otak kiri biasanya adalah kemampuan yang menunjang belajar di sekolah karena berkaitan dengan nalar dan Bahasa. Adapun yang menyebabkan anak-anak zaman sekarang lebih cenderung seperti ini disebabkan karena anak-anak ini kebanyakan sejak lahir lebih banyak mendapatkan rangsangan secara visual dari gambar, video, dan lain-lain. Kesulitan belajar yang disebabkan oleh atensi bisa disebabkan oleh perkembangan sensori yang kurang.

Kesulitan muncul karena durasi ketahanan anak dalam belajar. Anak-anak lebih banyak belajar dengan cara visual auditory kinestetik taktil. Situasi belajar di rumah sangat berbeda dengan sekolah. Apalagi bila orangtua tidak mengerti dengan kebutuhan anak dan tidak memiliki batasan yang tegas. Hal lainnya disebabkan oleh relationship dengan anak.

Menurut WHO durasi maksimal belajar anak secara online adalah sekitar 1 – 2 jam. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara untuk mengatasi hal ini. Diantaranya adalah memberikan tekhnik belajar yang sesuai. Dengan kemampuan orang dewasa memahami kebutuhan belajar anak, akan membantu sekali mereka untuk mengatasi kesulitan belajar. Selain itu, perlu bagi guru dan orangtua untuk menerima kondisi anak. Tidak lupa terapkan batasan yang jelas dan tegas. Orangtua, guru, dan anak juga perlu membangun koneksi. Dan yang tidak kalah penting adalah buatlah kegiatan belajar tersebut menjadi menyenangkan dengan memberikan beberapa games. Gunakan juga kalimat yang sederhana dan gunakan benda nyata untuk membantu pemahaman anak.

Untuk informasi lebih lengkap, kegiatan webinar ini bisa dilihat pada link Youtube berikut ini: AISEI Komunitas Pendidik Indonesia

Thursday, 2 July 2020

Life must go on

Life must go on. Kalimat ini tentunya sudah sering kita dengar dan lihat. Biasanya diucapkan oleh orang-orang yang tetap ingin menjalani hidup dengan optimis. Namun, pernahkah kita berpikir, sejauh mana kalimat ini memberikan pengaruh terhadap diri kita.
Ada satu masa, dimana kita perlu melihat jauh ke dalam diri sendiri. Apa yang sudah kita lalui, apa yang saat ini terjadi, dan apa yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. 
Apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan pernah bisa dirubah lagi. Beberapa hal akan disesali, sedang yang lain hanya akan menjadi kenangan indah. Setidaknya masa lalu, masih bisa kita jadikan pengalaman yang memberi pelajaran berharga. 
Yang terjadi saat ini, itulah kenyataan yang sedang kita hadapi. Suka ataupun tidak, tetap harus dijalani. Memutar otak untuk mencari jalan terbaik dalam menghadapinya adalah sebuah upaya kita untuk bertahan. 
Yang akan terjadi di masa datang, tidak pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Semua samar dan penuh perkiraan. Namun selalu ada asa di dalamnya. Berjaga-jaga, perlu kita lakukan, agar tidak serta merta hilang akal saat menghadapinya. 
Hidup akan terus berlanjut. Life must go on. Kita perlu banyak belajar dalam menjalani kehidupan ini.