Labels
- A Brief Thought (23)
- Art (6)
- Civics (2)
- Cooking (11)
- Education (6)
- Experience (16)
- Health (1)
- Islamic Studies (3)
- Kelas Menulis (11)
- Linguistics (2)
- Literature (4)
- Lomba Blog Nasional 2021 AISEI Writing Club (1)
- Mathematics (2)
- Platforms (3)
- Poems (26)
- Science (2)
- Social Studies (5)
Monday, 19 May 2025
Gangguan
Sunday, 13 August 2023
Sariawan
Saturday, 31 December 2022
Welcome 2023
Monday, 8 August 2022
Berjuang Mencari Pekerjaan
Friday, 29 April 2022
Persiapan Lebaran
Lebaran sebentar lagi
Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Setengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke masjid
Shalat Tarawih bersama-sama
Penggalan lirik lagu "Lebaran Sebentar Lagi" yang dinyanyikan oleh grup Bimbo dan di remake oleh Gigi Band ini tentunya bagi sebagian kita sudah tidak asing lagi. Lagu yang menggambarkan saat-saat menjelang lebaran. Dimana umat muslim mulai mempersiapkan banyak hal yang sangat identik dengan suasana lebaran. Mulai dari baju baru, berbagi THR dengan anggota keluarga besar yang masih anak-anak, mudik ke kampung halaman, bikin kue lebaran, masak rendang, ketupat, bersih-bersih dan menata rumah, mengatur jadwal kunjungan keluarga, serta seabreg kesibukan lainnya yang biasa kita temukan pada saat menyambut Idul Fitri. Rasanya seru dan bahagia menyambut kemenangan yang sudah hampir di depan mata. Menang melawan hawa nafsu setelah satu bulan berpuasa.
![]() |
| Mosque |
Namun demikian, semua itu jangan sampai membuat kita lupa bahwa 10 malam terakhir di tiap bulan Ramadhan adalah malam-malam yang sangat penuh berkah dan istimewa, penuh dengan kemuliaan dan keindahan yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW. Di dalamnya ada Lailatul Qadar. Rasulullah SAW mengajak kita untuk semakin memperbanyak ibadah pada saat-saat tersebut.
Di sisi lain kebahagiaan menyambut lebaran, ada baiknya kita tetap ingat bahwa ada sebagian saudara kita yang menjelang lebaran ini mungkin tengah kehilangan mata pencaharian, kurang sehat, belum bisa berkumpul dengan orang-orang yang mereka sayangi, atau tengah menghadapi masalah pelik dalam kehidupan. Dengan sedikit perhatian dan bantuan dari kita yang sedang diberi kemudahan, mungkin bisa membantu meringankan beban mereka, hingga bisa menularkan kebahagian yang tengah kita rasakan kepada para saudara kita yang lainnya.
Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin, tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan
Yang berbeda cuma amalnya
Semua ingin Lailatul Qadar
Semoga kita mendapatkannya
Semoga kita bisa mendapatkan keberkahan Ramadhan dan meraih kemenangan serta kembali fitrah di bulan Syawal. Aamiin.
Saturday, 9 April 2022
Di Pagi Hari
Pagi hari bagi saya adalah awal yang sangat patut untuk disyukuri. Saat kita terbangun dalam kondisi sehat, penuh semangat untuk melakukan berbagai aktivitas harian maupun dadakan. Mengawali pagi dengan doa dan beribadah adalah salah satu bentuk rasa syukur yang bisa kita lakukan terhadap Yang Maha Kuasa. Selain itu, doa dan ibadah juga bisa menjadi sebuah penguat jiwa dalam menghadapi hari-hari kita, sehingga terasa lebih nyaman, yakin dalam melangkah, dan terlindungi.
Selesai dengan doa dan ibadah, kita bisa menggerakkan tubuh agar lebih bugar dengan berolahraga ringan. Banyak sekali pilihan olahraga yang bisa kita lakukan. Mulai dari senam, lari pagi, bersepeda, dan lain-lain sesuai dengan keinginan dan kondisi tubuh. Untuk masalah intensitas dan durasi berolahraga, tentunya bisa kita konsultasikan dengan para ahli, agar hasilnya lebih maksimal.
Hal berikutnya bisa kita lanjutkan dengan membersihkan dan merapikan rumah. Rumah yang bersih dan rapi, tentunya akan memberikan rasa nyaman terhadap penghuninya selain tentunya dapat meningkatkan kesehatan para penghuni rumah. Bahkan bagi beberapa orang, kondisi rumah yang bersih dan rapi, bisa menjadi mood booster untuk beraktivitas.
Selesai dengan bersih-bersih rumah, jangan lupa untuk membersihkan diri sendiri. Mandi di pagi hari sepertinya cukup tepat untuk dijadikan pilihan agar rasa kantuk yang tersisa benar-benar hilang dan berganti dengan rasa segar di tubuh. Dan yang paling penting, mandi tentu saja dapat membuang kotoran yang ada di tubuh, hingga tubuh jadi lebih sehat, selain jadi wangi sebagai nilai tambahnya.
Berikutnya, setelah melewati masa tidur di malam hari, tentunya perut akan terasa lapar. Menyiapkan sarapan sehat untuk mengisi perut yang kosong bisa membuat energi jadi lebih bertambah. Tidak perlu sarapan sampai benar-benar kekenyangan, tapi sarapan secukupnya bisa membuat kita jadi lebih fokus dalam berkegiatan, sehingga tidak terganggu dengan perut yang keroncongan dan rasa lemas karena kurang tenaga. Kita bisa memilih menu sarapan yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kondisi tubuh kita masing-masing. Kalau ragu dengan menu sarapan yang cocok buat diri sendiri, bisa dikonsultasikan dengan dokter gizi.
Selanjutnya, kita bisa mempersiapkan alat dan barang yang akan kita gunakan dalam kegiatan kita sepanjang hari. Memastikan tidak ada yang tertinggal apabila kita harus kerja keluar rumah dan memeriksa kembali semua persiapan kita agar sesuai dengan rencana yang sudah disusun dan dalam kondisi aman.
Mari, menyongsong pagi dengan ceria dan semangat. Semoga kita mendapatkan banyak berkah dari awal pagi hingga malam harinya.
Sunday, 3 April 2022
Menyambut Ramadhan 1443 H
Surah Al Baqarah ayat 183
Terjemah:
Referensi:
Sunday, 27 March 2022
Teman dan Permasalahannya
![]() |
| Photo by DYH7 |
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teman dapat disebut juga sebagai sahabat, kawan, ataupun orang yang bisa diajak bersama-sama mengerjakan sesuatu, bisa diajak bercakap-cakap serta bisa saling melengkapi. Namun dalam keseharian, setiap orang bisa saja memaknai berbeda sesuai dengan pendapat dan cara pandang masing-masing.
Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia membutuhkan hubungan yang baik dengan sesamanya, dalam artian menjalin pertemanan. Banyak pengalaman yang bisa kita rasakan dari sebuah hubungan pertemanan. Mulai dari yang manis hingga membuat terkenang sepanjang masa, sampai yang pahit dan bikin kapok rasanya bila berteman dengan orang tersebut. Bagaimanapun rasanya, semua itu menambah pengalaman kita dalam bersosialisasi sehingga bisa dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk membedakan mana hal yang layak untuk dipertahankan dalam sebuah hubungan pertemanan, maupun yang wajib untuk dihindari supaya tidak merusak diri kita maupun orang lain.
Hubungan pertemanan sangatlah kaya dengan rasa. Karena dalam diri orang-orang yang memutuskan untuk menjadi teman, pastinya tetap banyak perbedaan disamping persamaan. Di saat kita berjalan dalam persamaan, tentu saja apa yang kita lakukan bersama terasa menyenangkan. Tapi bagaimana bila kita terbentur dengan perbedaan dalam berteman. Bisa dalam bentuk beda sudut pandang, cara berpikir, hobi, dan lain-lain. Tak urung perbedaan yang ada berpotensi untuk menimbukan konflik mulai dari yang kecil hingga besar. Apakah kemudian perbedaan itu bisa menjadi alasan kuat untuk membatasi hubungan pertemanan atau bahkan menghindarinya sama sekali? Tentunya tidak semudah itu untuk diputuskan. Sebagai teman, baiknya kita upayakan dulu untuk berdiskusi dan mencari solusi yang terbaik hingga kita sampai pada sebuah keputusan dan kesepakatan. Ada banyak pertimbangan dan waktu yang dibutuhkan untuk menentukan kelanjutan dari sebuah hubungan pertemanan.
Bagi saya pribadi, seorang teman harusnya jauh dari sifat munafik dan mampu menunjukkan rasa kemanusiaan. Jujur ucapannya, tepat janjinya, dan bisa dipercaya alias tidak akan berkhianat terhadap kita, serta saling bantu-membantu dalam kebaikan. Dan ternyata menemukan teman seperti ini tidak bisa dibilang mudah, dan tidak bisa pula dibilang sulit. Susah-susah gampang dan butuh proses.
Beberapa dari kita, mungkin pernah merasakan sepi pada saat-saat sulit. Jangankan mendapatkan bantuan yang diharapkan, malah yang ada, beberapa teman yang tadinya gampang dihubungi saat kondisi kita baik-baik saja, terasa seperti mulai menjaga jarak. Bahkan sekedar untuk diajak curhat-pun enggan. Baru menyapa saja, kita sudah dicurigai akan membawa masalah (sedihnya 😞). Pada saat seperti inilah, kita bisa benar-benar merasakan, siapa diantara teman-teman yang selama ini ada di dekat kita, yang sungguh-sungguh peduli dengan kita di saat susah maupun senang. Jika ada di antara kita yang menemukan hal seperti ini, harapan saya, janganlah sampai dijadikan dendam membara atau dimasukkan pikiran terlalu jauh agar kesehatan mental kita sendiri tetap terjaga. Baiknya kita jadikan satu pengalaman yang memperkaya batin dan pelajaran bagi kita untuk ke depannya agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Saran saya, pandai-pandailah memilih teman. Dalam artian, pilihlah teman yang bisa membawa kita ke arah akhlak yang lebih baik. Bahkan untuk diri kita sendiripun, tetaplah berusaha menjadi teman yang bisa menebarkan kebaikan karena dengan demikian semoga hidup kita jadi terasa lebih damai dan menyenangkan. Mari, tetap semangat menjalin pertemanan dan menghindari permusuhan.
Saturday, 19 February 2022
Kegiatan Masa New Normal
Sudah cukup lama rasanya tidak menulis ataupun berbagi pengalaman di blog ini. Saat ini, kebetulan sambil mengikuti workshop tentang penggunaan Canva dan PubHTML5 bersama klub menulis AISEI, saya tanpa sengaja mencoba membuka-buka kembali file lama yang kebetulan berkaitan dengan materi. Seketika itu, hati tergelitik untuk kembali buka blog yang sudah cukup lama tidak diisi karena kesibukan mengajar yang cukup menyita waktu.
Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menuliskan kembali pengalaman saya selama masa new normal. Setelah cukup lama berkutat dengan pandemi yang menguras pikiran, tenaga, dan banyak hal ini, sampai juga kita semua di masa new normal atau kenormalan baru. Masa dimana kita mulai kembali aktif sedikit demi sedikit dengan cara yang baru agar tetap terlindungi dari serangan virus Covid. Mulai dari menggunakan masker, menerapkan kebiasaan mencuci tangan, menjaga jarak, berdiam di rumah apabila merasa kurang sehat, dan lain-lain.
Rasanya bagaimana? Rasanya tentu saja naik turun. Ada rasa gembira karena berharap bisa kembali beraktivitas dengan normal seperti biasa, ada rasa takut tertular, ada rasa serba salah ketika menghadapi orang-orang yang punya pandangan berbeda tentang Covid. Bagi saya sendiri dan keluarga, kami mencoba untuk berdoa dan berusaha. Berdoa supaya dilindungi dari bahaya virus ini dan berusaha untuk tetap sehat dengan cara mengikuti program vaksin dan menerapkan pola hidup sehat. Kalaupun ada yang memandang usaha kami ini dengan cara yang berbeda, ya sudahlah, kita jalan masing-masing saja. Yang penting, kita semua berusaha untuk tetap sehat. Untuk hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Jangan sampai perbedaan pandangan menjadikan hubungan baik yang pernah kita jalin dalam bersosialisasi menjadi rusak.
Dalam hal pekerjaanpun, rasanya juga tidak kalah seru. Mulai dari masa awal pandemi, dimana kita diharapkan untuk mengajar online secara penuh, hingga akhirnya mulai menerapkan hybrid learning. Yang tadinya hanya bisa menatap anak lewat layar, sekarang mulai agak sering bertemu dengan siswa walaupun terbatas. Itupun masih tergantung tingkat angka penyebaran. Kalau tingkat penyebaran rendah, kita bisa agak leluasa menjalankan tatap muka terbatas. Tapi kalau angka penyebaran tinggi lagi, yah, mau tidak mau, kembali online dulu untuk sementara waktu. Persiapan mengajar juga disesuaikan dengan kondisi. Namun tidak bisa dipungkiri, waktu untuk persiapan jadi terasa lebih panjang. Apa boleh buat.
Saat ini, harapan saya adalah semoga semua kesulitan ini segera berlalu. Rindu sekali rasanya bisa berjalan-jalan dan beraktivitas dengan bebas seperti dulu. Walaupun memang kondisi new normal saat ini terasa mulai lebih lega untuk ruang gerak. Tidak sampai begitu mencekam seperti sebelumnya. Semoga saja harapan ini bisa segera terwujud. Salam sehat untuk semua. Aamiin.
Monday, 14 June 2021
Pandemi COVID-19 Saat Ini
Sudah nyaris hampir dua tahun sejak dimulainya awal pandemi COVID-19 hingga saat ini, tahun 2021. Belum terlihat tanda-tanda bahwa masa pandemi ini akan segera berakhir. Kita lihat di berita, adakalanya jumlah penderita tidak mengalami kenaikan begitu banyak, namun di lain waktu malah melonjak drastis. Yang jelas, tidak sedikit pula dampak yang dirasakan selama waktu pandemi ini, mulai dari geliat ekonomi banyak orang yang menurun drastis, kehilangan pekerjaan karena pengurangan jumlah karyawan di beberapa tempat usaha, dan tentunya masih banyak dampak lainnya.
Di satu sisi, beberapa kelompok masyarakat sudah ada yang mulai menerima suntikan vaksin. Saya sendiri termasuk sebagai salah seorang yang sudah di vaksin sebanyak dua kali. Dengan adanya vaksin ini, sepertinya memunculkan secercah harapan baru, dimana yang tadinya kita mulai optimis berpikir bahwa sepertinya pandemi ini akan segera berakhir dan aktivitas menjadi kembali normal. Tapi tunggu dulu, ternyata tidak semudah itu. Malahan sekarang sudah mulai ditemukan varian baru dari virus ini yang membuat kita terhenyak dan menyadari bahwa perjuangan ini masih belum usai.
Sepertinya sekolah masih belum akan begitu ramai dengan suara canda tawa anak-anak. Kita masih akan bertatap muka melalui layar-layar menyala yang bisa di on atau off-kan dengan mudah. Wajah masih akan terlihat "misterius" karena tertutup masker kemana-mana, dan tempat cuci tangan berikut sabun masih akan banyak kita jumpai di beberapa sudut tempat. Serta berbagai penggunaan kata "masih" yang akhirnya jadi biasa pada situasi pandemi ini. Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berusaha menjaga diri semaksimal mungkin dan memasrahkan usaha kita dalam doa yang tiada henti kepada Sang Maha Pencipta. Semoga Allah berkenan mengabulkan doa kita. Aamiin.
Sunday, 10 January 2021
Meraih Asa dan Prestasi di Masa Pandemi
| Online Learning |
Apa
yang bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar? Sebuah pertanyaan yang
bisa saja mengandung rasa optimis maupun pesimis, tergantung dari sudut mana
kita memandangnya. Pertanyaan ini tak ayal muncul dalam pikiran saya. Tentunya
bukan hal yang mengherankan karena saya sendiri adalah seorang guru.
Saya
sudah mengajar sejak tahun 2001. Awal mula saya menjadi seorang guru, berawal
dari saran salah seorang dosen. Saat itu adalah masa saat saya sedang
berkonsultasi untuk persiapan skripsi. Beliau mengajukan pertanyaan yang kurang
lebih bunyinya "Kamu tidak mau mencoba mengajar?". Pada saat itu saya
hanya diam dan akhirnya menjawab dengan ragu "Belum, Bu". Sejujurnya
belum terlintas di pikiran sedikitpun untuk menjadi seorang guru. Apalagi latar
belakang pendidikan saya sebagai seorang sarjana sastra yang memang tidak
terlalu diarahkan untuk menjadi seorang pendidik. Namun pertanyaan itu cukup
menggelitik. Saya mulai terpikir, apa rasanya jadi seorang guru, apa saya bisa?
Di dorong keingintahuan dan kesukaan saya terhadap tantangan, saya mulai
coba-coba untuk mengajar. Dalam pikiran saya, apa salahnya dicoba. Toh, saya
juga agak jenuh dengan rutinitas yang saya jalani pada masa itu. Mungkin dengan
mengajar, bertemu lingkungan yang berbeda, menghadapi perilaku siswa, dan
bertemu orang-orang baru di lingkungan kerja akan menambah wawasan saya.
Alhasil,
saya mulai membuat lamaran kerja. Setelah melewati proses rekrutmen, singkat
kata, saya berhasil diterima sebagai seorang asisten guru pada sebuah lembaga
kursus bahasa Inggris di kota kelahiran saya. Saya sengaja memilih tempat kerja
yang berkaitan dengan bahasa Inggris karena masih berkaitan dengan jurusan yang
saya tekuni. Mulailah saya menjalani hari-hari sebagai tenaga pengajar. Mulai
dari mempelajari materi yang akan dijelaskan ke siswa, bagaimana cara meng-handle
siswa, bekerjasama dalam tim, dan cara menghadapi atasan.
Setahun
lamanya saya bekerja disana. Setelah itu, saya mengundurkan diri karena saya
memilih untuk menyelesaikan skripsi. Saya merasa agak keteteran apabila
menjalani kuliah (walau sudah di semester akhir) sambil bekerja. Dalam masa
setahun tersebut, saya merasakan sangat banyak manfaat, pengalaman, dan ilmu
yang saya dapatkan. Setelah wisuda, saya mencoba untuk bekerja kembali sebagai
guru. Saya berpikir, bidang ini sudah pernah saya jalani, tidak ada salahnya
saya perdalam. Sehingga akhirnya, saya menjadi guru hingga saat ini.
Lalu
setelah menjadi guru, apakah semua berjalan lancar dan baik-baik saja? Tentu
tidak semudah itu. Saya merasakan bagaimana menghadapi siswa yang membantah
instruksi saya, complain orangtua, curahan hati siswa berikut orangtuanya,
menangani siswa cedera, target pembelajaran yang belum tercapai, gesekan dengan
rekan kerja, hingga usaha lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari
memberikan les privat. Bisa dibilang cukup berliku-liku. Dalam tenggang waktu
sedemikian, semua peristiwa yang memberikan rasa suka duka tersebut,
benar-benar menjadi pelajaran yang berharga.
Beberapa kali saya berpindah tempat kerja, dan tiap tempat kerja adalah gudang ilmu yang luar biasa. Mendapat kesempatan training, pelatihan, diskusi, dan lain-lain bisa disebut sebagai tambahan "harta" buat saya sebagai seorang guru. Dan yang paling anyar adalah mendapat pengalaman mengajar di masa pandemi. Kita cukup tahu bahwa pandemi COVID-19 ini memberikan kesulitan bagi banyak orang. Namun, itulah hidup. Selalu ada keseimbangan di dalamnya. Ada sulit, ada mudah. Sulit karena harus mempersiapkan diri untuk lebih menguasai teknologi, update peralihan cara mengajar dari tatap muka langsung menjadi jarak jauh, menggali ilmu baru untuk mengajar secara online, menyiapkan kuota dan gadget yang cukup mumpuni untuk diajak online. Pandemi COVID-19 yang entah kapan akan berakhir ini, membuat hal-hal yang tadinya terasa sulit, mulai jadi terbiasa.
Saya pribadi, yang tadinya hanya berangkat pagi, mengajar, pulang ke rumah (sesekali dalam setahun ikut pelatihan dari sekolah) mulai kenal dengan klub menulis, online webinar, online training, online workshop, dan aplikasi online lainnya lebih banyak. Perkenalan yang seringkali terjadi tanpa disengaja. Bagaimana bisa disebut tidak sengaja? Karena memang berawal dari ajakan teman dan rasa iseng, penasaran. Mulanya hanya ikut webinar secara online. Lama-kelamaan, rasanya seperti candu. Candu karena semakin banyak belajar, saya jadi merasa semakin kurang ilmu. Saya sering terkagum-kagum melihat narasumber menyampaikan pikiran dan penjelasan dalam beberapa pertemuan online.
Akhirnya saya aktif mencari dan
mengikuti berbagai pelatihan secara online. Saya tidak ingin melewatkan
kesempatan dimana hanya dengan duduk dan fokus di depan laptop menyala dan
didukung jaringan internet, saya bisa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa.
Sayapun menjajal berbagai webinar baik dari dalam maupun luar negeri. Webinar dari Cambridge, Oxford, British Council, dan yang lainnya saya jalani sambil terkantuk-kantuk karena pengaruh perbedaan zona waktu. Di
sela-sela kesibukan waktu mengurusi siswa secara online, saat jam istirahat
kerja seringkali saya gunakan untuk ikut kegiatan-kegiatan tersebut. Demikian juga
saat anak dan suami sudah tidur, bahkan saat weekend atau libur sekalipun. Sekitar 1-2
jam masih saya gunakan untuk belajar dan melakukan aktivitas yang bisa
meningkatkan kemampuan saya sebagai seorang guru. Kalau ditanya capek, ya
sudahlah. Saya pikir, tidak ada hasil baik yang dicapai tanpa pengorbanan. Yang
penting, saya tetap usahakan untuk menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Untungnya
suami dan anak juga ikut mendukung apa yang saya lakukan.
Dari
berbagai kegiatan itulah, saya menemukan jalan untuk bergabung dengan klub
belajar menulis bersama Om Jay, AISEI, dan PSSDM. Tidak saya sangka-sangka,
bisa belajar dari para penulis profesional, dapat pelatihan tentang ilmu-ilmu
terbaru yang berkaitan dengan pembelajaran untuk siswa dari para ahli. Bahkan
jadi ada semangat untuk ikut kegiatan Wardah Inspiring Teacher 2020 bersama
Kampus Guru Cikal dan Sekolahmu. Kegiatan ini saya ikuti sejak awal pandemi hingga bulan Desember 2020. Dan pada puncak kegiatan ini, saya berkesempatan untuk berbagi video pembelajaran buatan sendiri dengan para peserta Temu Pendidik Nusantara 7. Dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang mencoba ikut serta dalam lomba menulis di blog yang
diselenggarakan oleh AISEI.
Sedikit
demi sedikit, mata dan pikiran saya mulai lebih terbuka. Ternyata dunia memang
luas dan indah. Tidak terbatas hanya pada sebuah rutinitas. Ada banyak hal yang
bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar. Menulis, membuat podcast,
menjadi youtuber, menjadi pembicara pada kegiatan sharing bersama teman. Saya
menyesal kenapa tidak menemukannya lebih awal. Namun saya bersyukur bahwa saya
tetap bisa meraih kesempatan ini. Dan sekarang, saya sangat menikmati kebebasan
menggali potensi diri dan berekspresi seluas-luasnya di luar rutinitas. Kalau
boleh menggunakan istilah Stephen Covey dalam The Seven Habits of Highly
Effective People, inilah saatnya saya melakukan sharpen the saw. Saya mencoba
untuk "mengasah gergaji" agar tidak tumpul dan tetap produktif.
Itulah
sepenggal pengalaman saya sebagai seorang guru. Dari apa yang sudah saya
lewati, muncul sebuah pikiran bahwa menjadi seorang guru tidak berhenti hanya
pada tahap mengajar, tapi tetap perlu banyak belajar. Harapan saya, semoga
semua guru bisa meraih apa yang menjadi asanya dalam menjalani profesi sebagai
seorang guru, tetap sehat dan sabar dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Sunday, 28 June 2020
Work from Office
Sunday, 21 June 2020
Kegiatan di Masa Pandemi
Beribadah
Menjaga Kesehatan
Melaksanakan aktivitas sehari-hari
Upgrade Kemampuan
Silaturrahim
Lakukan hobi
Monday, 25 May 2020
Sebuah Catatan: Eid Mubarak 1441 H
Friday, 24 April 2020
Sebuah Catatan: Masa Karantina (Pembatasan Sosial Berskala Besar)
Friday, 7 September 2018
Mengatasi Rasa Takut
Hingga saat itu tiba, sekitar jam 01.30 WIB pagi, saya dan teman - teman sekamar sudah mulai bersiap - siap. Bagi yang kuat dingin, boleh mandi dulu. Lalu berkumpul dengan tim yang lain, berangkat dengan jeep yang sudah disediakan untuk masing - masing kelompok. Sesampainya disana, perjalanan naik gunung dimulai dengan melihat sunrise. Lalu diteruskan ke bagian pasir berbisik. Lokasi ini kami tempuh dengan menggunakan jeep yang stand by di lokasi. Sesampainya di gunung Bromo, untuk menuju ke puncak, barulah ditempuh dengan berjalan kaki. Beberapa ada yang menggunakan jasa penyewaan kuda. Sementara saya, lebih memilih untuk berjalan kaki (selain untuk menurunkan kolesterol, sekalian ingin uji coba daya tahan tubuh, masih kuat atau tidak).
Sambil sesekali terengah - engah, istirahat, dan perasaan berdebar - debar tidak karuan karena khawatir pingsan di jalan, saya tetap melanjutkan perjalanan yang diusahakan sesantai mungkin. Sambil dalam hati terus berdoa, Ya Allah, mohon bantuan karena sendirian. Teman - teman yang ikut berangkat, sudah entah dimana. Sayang juga kesempatan baru dan bagus menurut saya jika dilewati begitu saja, tanpa naik ke puncak. Begitu berada tepat dikaki gunung, rasa ragu ingin naik atau tidak makin kuat. Khawatir kalau terjadi apa - apa siapa yang membantu. Akhirnya dengan menguatkan doa, tekad, sambil terbayang wajah suami yang biasanya menyemangati, saya melanjutkan naik tangga ke puncak Bromo hingga akhirnya, berhasil sampai di atas. Pakai selfie pula. Setelah merasa cukup, saya pun mulai turun dengan perasaan yang benar - benar lega. Ada air mata yang sedikit tertumpah karena merasakan bantuan Allah dalam langkah yang "Sendirian". Saya benar - benar merasakan bahwa ternyata rasa takut adalah salah satu penghalang besar dalam langkah ini. Bukan usaha yang mudah juga buat saya mengatasinya, apalagi jauh dari siapapun yang saya kenal saat itu. Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi hasil pergulatan perasaan orang memang berbeda - beda dan itulah yang saya rasakan.
Saya melanjutkan perjalanan turun hingga mencapai tempat pemberhentian jeep dan kembali ke penginapan untuk bersiap pulang ke Jakarta. Sesampai di rumah, dengan sedikit bergaya, saya mengucapkan "Pa, naik gunung lagi yuk, sekeluarga." Suamiku tersayang hanya menjawab dengan senyuman, sedangkan anakku yang berumur 8 tahun berkata "Tidak mau".







