Showing posts with label Experience. Show all posts
Showing posts with label Experience. Show all posts

Monday, 19 May 2025

Gangguan


Apakah anda pernah punya pengalaman menghadapi orang yang arogan dan suka menilai sesuatu sesuka hatinya, bahkan menyebarkan penilaiannya yang tidak jelas tersebut kepada orang lain? Dan konyolnya lagi, ada orang yang langsung percaya begitu saja dengan orang-orang tukang fitnah yang suka membawa kabar angin tidak jelas ini, tanpa konfirmasi ataupun mencari data terlebih dahulu.
Bagi anda yang pernah bertemu dengan makhluk seperti ini, tentu dongkolnya luar biasa. Karena tidak jarang mereka menimbulkan kerugian moril maupun materil terhadap orang yang dijadikan korban. Lalu bagaimana kita menghadapi orang bermasalah seperti ini? Mari kita coba beberapa langkah berikut ini:

Tetap melakukan yang terbaik

Yakinkan diri anda untuk tetap berada di jalur yang benar dan melakukan hal yang terbaik. Pastikan anda tidak membuat kesalahan yang bertentangan dengan agama, aturan, serta norma dan nilai. Tidak perlu terlalu fokus dengan gangguan dari orang-orang menyebalkan seperti itu, sehingga membuat anda kehilangan konsentrasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan dalam berkarya, karena apabila demikian, anda hanya akan mengalami banyak kerugian dan kemunduran. Tentunya pihak yang tidak sejalan dengan anda akan semakin senang melihat kondisi anda yang seperti itu. Percayalah bahwa benar adalah benar dan salah adalah salah. Sesungguhnya mereka tidak akan pernah tertukar, apabila kita melihatnya dengan segenap rasa dan pikiran yang jernih.

Interaksi bermutu

Sedapat mungkin hindari banyak berinteraksi dengan orang yang berpotensi hanya akan menimbulkan masalah dalam hidup anda. Kalau perlu keluar dari lingkungan yang tidak sehat tersebut demi kesehatan lahir dan batin anda. Namun, apabila menghindar sudah tidak bisa dilakukan, cukup lakukan interaksi seperlunya saja, dan tetap waspada dengan segala kemungkinan, sehingga anda bisa punya solusi apabila sewaktu-waktu orang tersebut menjadi sumber masalah untuk anda.

Selalu berwawasan terbuka

Tidak ada satupun yang sempurna di dunia ini. Setidaknya anda mendapatkan pengalaman dalam menghadapi orang-orang tersebut. Pengalaman akan memperkaya wawasan anda, bahkan membuka ruang untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Mungkin ada hal yang juga perlu diperbaiki dari dalam diri anda. Walaupun jalannya melalui cara yang tidak menyenangkan.

Berpikiran positif terhadap apa yang terjadi dan terhadap diri sendiri

Berkaitan dengan poin ketiga, masalah akan selalu ada dalam hidup. Kedatangannya bisa saja sebagai teguran maupun sebagai cobaan. Jangan biarkan diri terus menerus terpuruk oleh penilaian dan prasangka buruk orang lain. Jadikan hal ini sebagai cambuk dalam upaya memperbaiki kualitas diri secara berkesinambungan. Ikuti kegiatan yang memberikan dampak positif bagi anda. 

Abaikan suara-suara sumbang yang terlalu mengganggu dan tidak berdasar.

Apabila anda sudah melakukan segala upaya terbaik, anda bisa mempertimbangkan untuk mengabaikan saja segala bentuk kebohongan, gosip, fitnah, dan yang sejenis lainnya. Mungkin masalahnya bukan pada anda, tapi pada orang-orang dengan tanda kutip tersebut. Ingat! Ada pepatah yang mengatakan "Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu" dan "Tong kosong nyaring bunyinya".

Mempertimbangkan jalur hukum

Untuk kasus tertentu yang sudah terlalu mengusik ketenangan dan semakin tidak terkendali, sehingga mendatangkan kerugian yang cukup besar, ada baiknya anda mulai melirik penggunaan jalur hukum. Anda bisa berkonsultasi dengan pihak resmi yang berkompeten dalam bidang ini untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

Percaya pada kekuatan doa.

Berusaha dan berdoa, adalah kunci. Usaha tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa usaha adalah sia-sia. Sebagai makhluk yang banyak kelemahan dan kekurangan, sudah mutlak kita tidak akan sanggup melawan semua gangguan dan menyelesaikan semua masalah sendirian. Andalkan dan mohonlah bantuan kepada Yang Maha Kuasa. Tak ada gunanya berharap pada manusia dan apapun selain Allah, karena seringkali hanya menimbulkan kekecewaan dan tidak maksimal. Ikhlaskan dan serahkan saja kepada Yang Maha Kuat untuk memberikan didikan yang paling tepat bagi orang-orang yang suka mempersulit hidup orang lain. Dengan demikian, hati kita jadi lebih tenang serta energi dan waktu juga tidak terbuang percuma. Kita bisa mengerjakan hal lain yang lebih berguna.

Semoga semua tips tersebut bisa memberikan manfaat dan pencerahan bagi kita bersama, terutama saat kita menghadapi masalah seperti yang diuraikan di atas. Tetap semangat dan pantang menyerah!

Sunday, 13 August 2023

Sariawan

Sudah beberapa hari ini, saya jadi rada tersiksa gara-gara dua sariawan yang satunya tumbuh di bibir bagian atas dan satu lagi di ujung lidah. Diawali sebelumnya dengan pilek dan batuk. Pilek dan batuk sembuh, lanjut dengan sariawan.

Mau makan salah, diam juga kadang nyut-nyutan, dibawa ngomong dan kesenggol gigi rasanya aduhai perih. Imbas ketidak nyamannya terasa sampai ke mata, geraham, dan pipi.

Supaya cepat sembuh, saya perbanyak makan sayur, buah, minum madu, teh hijau, air kelapa muda dan air putih. Serta banyak beristirahat pada saat weekend. Hasilnya cukup lumayan. Yang satu sudah mulai sembuh.

Hikmah yang saya dapat dari masalah sariawan ini adalah betapa nikmat sehat yang diberikan Allah, adalah berkah luar biasa yang wajib kita syukuri dan jaga. Dengan sariawan yang ukurannya sebesar biji kacang hijau saja, sudah cukup membuat kita kelabakan. Dari sini terlihat bahwa kekuatan dan kemampuan manusia ternyata tidak seberapa. Lantas, apa yang mau disombongkan sebagai manusia? 

Jadi perbanyaklah belajar dari apa yang terjadi di sekitar kita dan dari diri kita sendiri. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat.

Saturday, 31 December 2022

Welcome 2023


Tahun 2022 akan segera berlalu dan tahun 2023 akan segera datang dalam hitungan jam pada Waktu Indonesia bagian Barat. Banyak hal yang saya rasakan dan lalui tentunya pada tahun 2022 ini. Salah satu yang paling berkesan adalah saya tidak bekerja lagi di tempat yang lama dan Alhamdulillah sudah mendapatkan gantinya di tempat baru setelah sempat menganggur kurang lebih 4,5 bulan. 
Luar biasa pelajaran yang saya dapatkan selama di rumah saja. Selain saya jadi punya waktu luang untuk menulis di blog, membuat konten di YouTube channel, dan terkadang ikut webinar tentang pendidikan, saya juga mendapatkan pelajaran berarti tentang keikhlasan, kesabaran, kerendahan hati, rasa syukur, cara berpikir positif, dan refleksi diri. 
Allah memberikan hal yang terbaik, pada waktu yang terbaik untuk saya, yang tak pernah saya sangka sebelumnya, setelah menanti cukup lama dalam kegundahan. Terima kasih Ya Allah untuk pelajaran ini. 

Monday, 8 August 2022

Berjuang Mencari Pekerjaan


Tahun 2022 adalah salah satu fase dalam kehidupan saya yang memberikan kesan mendalam. Dalam tahun ini, terjadi banyak perubahan yang memberikan pengaruh besar maupun kecil untuk langkah saya ke depannya. Salah satunya adalah kembali menjadi seorang job seeker atau pencari kerja. Maklumlah saya adalah seorang karyawan swasta.
Kondisi ini tentunya bukanlah hal mudah untuk dijalani. Saya harus kembali habis-habisan berjuang melamar sebagai guru ke berbagai sekolah, menyusun curriculum vitae terbaru yang kira-kira bisa mencuri sedikit perhatian dari para recruiters, menyiapkan berkas-berkas untuk melengkapi lamaran kerja, dan yang tak kalah pentingnya adalah menyiapkan mental baja dalam menghadapi proses ini. 

Mental adalah hal penting yang harus saya jaga habis-habisan saat ini, karena saya mencari pekerjaan pada usia yang sudah tidak muda lagi. Pada usia yang seharusnya sudah mapan dalam pekerjaan, dan mungkin seharusnya memikirkan cara untuk lebih mengembangkan karir, saya justru merasakan ketar-ketirnya persaingan dengan para pencari kerja lainnya yang notabene lebih muda. Tapi apa boleh buat, dampak pengurangan karyawan mau tidak mau terpaksa saya rasakan. Walau demikian, saya tidak boleh menyerah begitu saja, karena ada masa depan keluarga yang juga turut saya perjuangkan dalam hal ini.

Jauh di dalam hati saya, tentunya kehilangan pekerjaan di usia yang tidak muda, bukanlah keinginan saya. Benar-benar sebuah usaha keras penuh kesabaran untuk menunggu orang yakin bahwa walau sudah tidak muda belia, saya masih mampu berpikir dan bekerja dengan baik. Kalau ditanya rasanya, minta ampun. Jika suatu saat nanti saya bisa melewati hal ini dengan baik, rasanya seperti tidak sanggup untuk menoleh ke belakang lagi. Ada masa dimana semangat menggebu-gebu bagai prajurit dengan senjata lengkap yang siap bertempur di medan perang, namun di lain waktu, rasanya seperti hampa kehilangan harapan saat menemukan kendala yang membuat saya belum bisa menempati posisi yang dilamar. Berkali-kali emosi dibuat naik turun, semangat, lalu down, semangat lagi, kecewa lagi. 
Tiap saat saya bolak balik melihat layar handphone seandainya ada kabar tentang kelanjutan lamaran kerja yang sudah saya kirim. Kalau lah bisa diumpamakan dengan bumbu masak, rasa bumbunya amat sangat lengkap. Ada pedas, manis, asam, pahit. Rupa-rupalah pokoknya.

Lantas apa upaya yang bisa saya lakukan untuk bertahan? Tentu yang jelas dan utama sekali adalah berdoa. Layaknya manusia yang banyak kekurangan dan percaya dengan kekuatan Yang Maha Kuasa, saya tahu pasti bahwa tidak ada sesuatu pun akan terjadi tanpa izin Nya. Saya paksakan diri dan kuatkan hati untuk terus berusaha. Hingga saya sampai pada suatu titik pasrah terhadap apapun ketentuan Allah, yang penting saya terus berusaha. 

Namun di sela-sela kesulitan yang menghadang pikiran saya saat ini, saya berupaya agar tetap menjadi makhluk yang tahu rasa syukur. Setidaknya saya dan keluarga masih diberi banyak nikmat seperti kesehatan, support dari suami dan anak yang sangat memahami sekali perasaan dan kondisi saya saat ini, yang selalu menyediakan waktu untuk mendengar keluh kesah berikut air mata saya, teman-teman yang membantu memberikan informasi lowongan pekerjaan buat saya, connection saya di akun LinkedIn yang sudah bersedia untuk memberikan endorsement, dan lain-lain. Hingga saat saya menuliskan pengalaman ini, saya masih berjuang untuk mencari pekerjaan. Semoga Allah berkenan mengabulkan doa-doa saya dan memberikan hal yang terbaik bagi kami sekeluarga. Aamiin.

Friday, 29 April 2022

Persiapan Lebaran

 

    

Lebaran sebentar lagi
Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Setengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke masjid
Shalat Tarawih bersama-sama

Penggalan lirik lagu "Lebaran Sebentar Lagi" yang dinyanyikan oleh grup Bimbo dan di remake oleh Gigi Band ini tentunya bagi sebagian kita sudah tidak asing lagi. Lagu yang menggambarkan saat-saat menjelang lebaran. Dimana umat muslim mulai mempersiapkan banyak hal yang sangat identik dengan suasana lebaran. Mulai dari baju baru, berbagi THR dengan anggota keluarga besar yang masih anak-anak, mudik ke kampung halaman, bikin kue lebaran, masak rendang, ketupat, bersih-bersih dan menata rumah, mengatur jadwal kunjungan keluarga, serta seabreg kesibukan lainnya yang biasa kita temukan pada saat menyambut Idul Fitri. Rasanya seru dan bahagia menyambut kemenangan yang sudah hampir di depan mata. Menang melawan hawa nafsu setelah satu bulan berpuasa.

Mosque
Mosque


Namun demikian, semua itu jangan sampai membuat kita lupa bahwa 10 malam terakhir di tiap bulan Ramadhan adalah malam-malam yang sangat penuh berkah dan istimewa, penuh dengan kemuliaan dan keindahan yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW. Di dalamnya ada Lailatul Qadar. Rasulullah SAW mengajak kita untuk semakin memperbanyak ibadah pada saat-saat tersebut.

Di sisi lain kebahagiaan menyambut lebaran, ada baiknya kita tetap ingat bahwa ada sebagian saudara kita yang menjelang lebaran ini mungkin tengah kehilangan mata pencaharian, kurang sehat, belum bisa berkumpul dengan orang-orang yang mereka sayangi, atau tengah menghadapi masalah pelik dalam kehidupan. Dengan sedikit perhatian dan bantuan dari kita yang sedang diberi kemudahan, mungkin bisa membantu meringankan beban mereka, hingga bisa menularkan kebahagian yang tengah kita rasakan kepada para saudara kita yang lainnya.

Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin, tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan
Yang berbeda cuma amalnya
Semua ingin Lailatul Qadar
Semoga kita mendapatkannya

Semoga kita bisa mendapatkan keberkahan Ramadhan dan meraih kemenangan serta kembali fitrah di bulan Syawal. Aamiin.

Saturday, 9 April 2022

Di Pagi Hari

 


Pagi hari bagi saya adalah awal yang sangat patut untuk disyukuri. Saat kita terbangun dalam kondisi sehat, penuh semangat untuk melakukan berbagai aktivitas harian maupun dadakan. Mengawali pagi dengan doa dan beribadah adalah salah satu bentuk rasa syukur yang bisa kita lakukan terhadap Yang Maha Kuasa. Selain itu, doa dan ibadah juga bisa menjadi sebuah penguat jiwa dalam menghadapi hari-hari kita, sehingga terasa lebih nyaman, yakin dalam melangkah, dan terlindungi.

Selesai dengan doa dan ibadah, kita bisa menggerakkan tubuh agar lebih bugar dengan berolahraga ringan. Banyak sekali pilihan olahraga yang bisa kita lakukan. Mulai dari senam, lari pagi, bersepeda, dan lain-lain sesuai dengan keinginan dan kondisi tubuh. Untuk masalah intensitas dan durasi berolahraga, tentunya bisa kita konsultasikan dengan para ahli, agar hasilnya lebih maksimal.

Hal berikutnya bisa kita lanjutkan dengan membersihkan dan merapikan rumah. Rumah yang bersih dan rapi, tentunya akan memberikan rasa nyaman terhadap penghuninya selain tentunya dapat meningkatkan kesehatan para penghuni rumah. Bahkan bagi beberapa orang, kondisi rumah yang bersih dan rapi, bisa menjadi mood booster untuk beraktivitas.

Selesai dengan bersih-bersih rumah, jangan lupa untuk membersihkan diri sendiri. Mandi di pagi hari sepertinya cukup tepat untuk dijadikan pilihan agar rasa kantuk yang tersisa benar-benar hilang dan berganti dengan rasa segar di tubuh. Dan yang paling penting, mandi tentu saja dapat membuang kotoran yang ada di tubuh, hingga tubuh jadi lebih sehat, selain jadi wangi sebagai nilai tambahnya.

Berikutnya, setelah melewati masa tidur di malam hari, tentunya perut akan terasa lapar. Menyiapkan sarapan sehat untuk mengisi perut yang kosong bisa membuat energi jadi lebih bertambah. Tidak perlu sarapan sampai benar-benar kekenyangan, tapi sarapan secukupnya bisa membuat kita jadi lebih fokus dalam berkegiatan, sehingga tidak terganggu dengan perut yang keroncongan dan rasa lemas karena kurang tenaga. Kita bisa memilih menu sarapan yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kondisi tubuh kita masing-masing. Kalau ragu dengan menu sarapan yang cocok buat diri sendiri, bisa dikonsultasikan dengan dokter gizi.

Selanjutnya, kita bisa mempersiapkan alat dan barang yang akan kita gunakan dalam kegiatan kita sepanjang hari. Memastikan tidak ada yang tertinggal apabila kita harus kerja keluar rumah dan memeriksa kembali semua persiapan kita agar sesuai dengan rencana yang sudah disusun dan dalam kondisi aman.

Mari, menyongsong pagi dengan ceria dan semangat. Semoga kita mendapatkan banyak berkah dari awal pagi hingga malam harinya.

Sunday, 3 April 2022

Menyambut Ramadhan 1443 H


Surah Al Baqarah ayat 183


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn


Terjemah:

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


Alhamdulillah akhirnya bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini. Walaupun mulai awal bulan puasa tahun ini ada perbedaan, yaitu di hari Sabtu, 2 April 2022 dan di hari Minggu, 3 April 2022. Semoga semua perbedaan itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak saling menghormati pilihan masing-masing, karena pada dasarnya penetapan tanggal tersebut sudah melalui dasar perhitungan yang sama-sama kuat oleh para ahli di bidangnya. 
Bisa dibilang ini adalah bulan Ramadhan di masa penyebaran virus COVID sudah jauh berkurang. Sungguh satu hal yang patut kita syukuri karena dengan demikian, berarti kita mulai bisa menjalankan ibadah sholat Tarawih berjamaah di Masjid dengan lebih khusyuk. Selamat datang Ramadhan. Mari kita sambut bulan penuh berkah ini dengan rasa bahagia. 


Referensi:

Sunday, 27 March 2022

Teman dan Permasalahannya

Photo by DYH7

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teman dapat disebut juga sebagai sahabat, kawan, ataupun orang yang bisa diajak bersama-sama mengerjakan sesuatu, bisa diajak bercakap-cakap serta bisa saling melengkapi. Namun dalam keseharian, setiap orang bisa saja memaknai berbeda sesuai dengan pendapat dan cara pandang masing-masing.

Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia membutuhkan hubungan yang baik dengan sesamanya, dalam artian menjalin pertemanan. Banyak pengalaman yang bisa kita rasakan dari sebuah hubungan pertemanan. Mulai dari yang manis hingga membuat terkenang sepanjang masa, sampai yang pahit dan bikin kapok rasanya bila berteman dengan orang tersebut. Bagaimanapun rasanya, semua itu menambah pengalaman kita dalam bersosialisasi sehingga bisa dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk membedakan mana hal yang layak untuk dipertahankan dalam sebuah hubungan pertemanan, maupun yang wajib untuk dihindari supaya tidak merusak diri kita maupun orang lain. 

Hubungan pertemanan sangatlah kaya dengan rasa. Karena dalam diri orang-orang yang memutuskan untuk menjadi teman, pastinya tetap banyak perbedaan disamping persamaan. Di saat kita berjalan dalam persamaan, tentu saja apa yang kita lakukan bersama terasa menyenangkan. Tapi bagaimana bila kita terbentur dengan perbedaan dalam berteman. Bisa dalam bentuk beda sudut pandang, cara berpikir, hobi, dan lain-lain. Tak urung perbedaan yang ada berpotensi untuk menimbukan konflik mulai dari yang kecil hingga besar. Apakah kemudian perbedaan itu bisa menjadi alasan kuat untuk membatasi hubungan pertemanan atau bahkan menghindarinya sama sekali? Tentunya tidak semudah itu untuk diputuskan. Sebagai teman, baiknya kita upayakan dulu untuk berdiskusi dan mencari solusi yang terbaik hingga kita sampai pada sebuah keputusan dan kesepakatan. Ada banyak pertimbangan dan waktu yang dibutuhkan untuk menentukan kelanjutan dari sebuah hubungan pertemanan. 

Bagi saya pribadi, seorang teman harusnya jauh dari sifat munafik dan mampu menunjukkan rasa kemanusiaan. Jujur ucapannya, tepat janjinya, dan bisa dipercaya alias tidak akan berkhianat terhadap kita, serta saling bantu-membantu dalam kebaikan. Dan ternyata menemukan teman seperti ini tidak bisa dibilang mudah, dan tidak bisa pula dibilang sulit. Susah-susah gampang dan butuh proses. 

Beberapa dari kita, mungkin pernah merasakan sepi pada saat-saat sulit. Jangankan mendapatkan bantuan yang diharapkan, malah yang ada, beberapa teman yang tadinya gampang dihubungi saat kondisi kita baik-baik saja, terasa seperti mulai menjaga jarak. Bahkan sekedar untuk diajak curhat-pun enggan. Baru menyapa saja, kita sudah dicurigai akan membawa masalah (sedihnya 😞). Pada saat seperti inilah, kita bisa benar-benar merasakan, siapa diantara teman-teman yang selama ini ada di dekat kita, yang sungguh-sungguh peduli dengan kita di saat susah maupun senang. Jika ada di antara kita yang menemukan hal seperti ini, harapan saya, janganlah sampai dijadikan dendam membara atau dimasukkan pikiran terlalu jauh agar kesehatan mental kita sendiri tetap terjaga. Baiknya kita jadikan satu pengalaman yang memperkaya batin dan pelajaran bagi kita untuk ke depannya agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Saran saya, pandai-pandailah memilih teman. Dalam artian, pilihlah teman yang bisa membawa kita ke arah akhlak yang lebih baik. Bahkan untuk diri kita sendiripun, tetaplah berusaha menjadi teman yang bisa menebarkan kebaikan karena dengan demikian semoga hidup kita jadi terasa lebih damai dan menyenangkan. Mari, tetap semangat menjalin pertemanan dan menghindari permusuhan.

Saturday, 19 February 2022

Kegiatan Masa New Normal

Sudah cukup lama rasanya tidak menulis ataupun berbagi pengalaman di blog ini. Saat ini, kebetulan sambil mengikuti workshop tentang penggunaan Canva dan PubHTML5 bersama klub menulis AISEI, saya tanpa sengaja mencoba membuka-buka kembali file lama yang kebetulan berkaitan dengan materi. Seketika itu, hati tergelitik untuk kembali buka blog yang sudah cukup lama tidak diisi karena kesibukan mengajar yang cukup menyita waktu.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menuliskan kembali pengalaman saya selama masa new normal. Setelah cukup lama berkutat dengan pandemi yang menguras pikiran, tenaga, dan banyak hal ini, sampai juga kita semua di masa new normal atau kenormalan baru. Masa dimana kita mulai kembali aktif sedikit demi sedikit dengan cara yang baru agar tetap terlindungi dari serangan virus Covid. Mulai dari menggunakan masker, menerapkan kebiasaan mencuci tangan, menjaga jarak, berdiam di rumah apabila merasa kurang sehat, dan lain-lain. 

Rasanya bagaimana? Rasanya tentu saja naik turun. Ada rasa gembira karena berharap bisa kembali beraktivitas dengan normal seperti biasa, ada rasa takut tertular, ada rasa serba salah ketika menghadapi orang-orang yang punya pandangan berbeda tentang Covid. Bagi saya sendiri dan keluarga, kami mencoba untuk berdoa dan berusaha. Berdoa supaya dilindungi dari bahaya virus ini dan berusaha untuk tetap sehat dengan cara mengikuti program vaksin dan menerapkan pola hidup sehat. Kalaupun ada yang memandang usaha kami ini dengan cara yang berbeda, ya sudahlah, kita jalan masing-masing saja. Yang penting, kita semua berusaha untuk tetap sehat. Untuk hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Jangan sampai perbedaan pandangan menjadikan hubungan baik yang pernah kita jalin dalam bersosialisasi menjadi rusak. 

Dalam hal pekerjaanpun, rasanya juga tidak kalah seru. Mulai dari masa awal pandemi, dimana kita diharapkan untuk mengajar online secara penuh, hingga akhirnya mulai menerapkan hybrid learning. Yang tadinya hanya bisa menatap anak lewat layar, sekarang mulai agak sering bertemu dengan siswa walaupun terbatas. Itupun masih tergantung tingkat angka penyebaran. Kalau tingkat penyebaran rendah, kita bisa agak leluasa menjalankan tatap muka terbatas. Tapi kalau angka penyebaran tinggi lagi, yah, mau tidak mau, kembali online dulu untuk sementara waktu. Persiapan mengajar juga disesuaikan dengan kondisi. Namun tidak bisa dipungkiri, waktu untuk persiapan jadi terasa lebih panjang. Apa boleh buat.

Saat ini, harapan saya adalah semoga semua kesulitan ini segera berlalu. Rindu sekali rasanya bisa berjalan-jalan dan beraktivitas dengan bebas seperti dulu. Walaupun memang kondisi new normal saat ini terasa mulai lebih lega untuk ruang gerak. Tidak sampai begitu mencekam seperti sebelumnya. Semoga saja harapan ini bisa segera terwujud. Salam sehat untuk semua. Aamiin.

Monday, 14 June 2021

Pandemi COVID-19 Saat Ini

 

Sudah nyaris hampir dua tahun sejak dimulainya awal pandemi COVID-19 hingga saat ini, tahun 2021. Belum terlihat tanda-tanda bahwa masa pandemi ini akan segera berakhir. Kita lihat di berita, adakalanya jumlah penderita tidak mengalami kenaikan begitu banyak, namun di lain waktu malah melonjak drastis. Yang jelas, tidak sedikit pula dampak yang dirasakan selama waktu pandemi ini, mulai dari geliat ekonomi banyak orang yang menurun drastis, kehilangan pekerjaan karena pengurangan jumlah karyawan di beberapa tempat usaha, dan tentunya masih banyak dampak lainnya. 

Di satu sisi, beberapa kelompok masyarakat sudah ada yang mulai menerima suntikan vaksin. Saya sendiri termasuk sebagai salah seorang yang sudah di vaksin sebanyak dua kali. Dengan adanya vaksin ini, sepertinya memunculkan secercah harapan baru, dimana yang tadinya kita mulai optimis berpikir bahwa sepertinya pandemi ini akan segera berakhir dan aktivitas menjadi kembali normal. Tapi tunggu dulu, ternyata tidak semudah itu. Malahan sekarang sudah mulai ditemukan varian baru dari virus ini yang membuat kita terhenyak dan menyadari bahwa perjuangan ini masih belum usai. 

Sepertinya sekolah masih belum akan begitu ramai dengan suara canda tawa anak-anak. Kita masih akan bertatap muka melalui layar-layar menyala yang bisa di on atau off-kan dengan mudah. Wajah masih akan terlihat "misterius" karena tertutup masker kemana-mana, dan tempat cuci tangan berikut sabun masih akan banyak kita jumpai di beberapa sudut tempat. Serta berbagai penggunaan kata "masih" yang akhirnya jadi biasa pada situasi pandemi ini. Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berusaha menjaga diri semaksimal mungkin dan memasrahkan usaha kita dalam doa yang tiada henti kepada Sang Maha Pencipta. Semoga Allah berkenan mengabulkan doa kita. Aamiin.

Sunday, 10 January 2021

Meraih Asa dan Prestasi di Masa Pandemi

 

Online Learning

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar? Sebuah pertanyaan yang bisa saja mengandung rasa optimis maupun pesimis, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Pertanyaan ini tak ayal muncul dalam pikiran saya. Tentunya bukan hal yang mengherankan karena saya sendiri adalah seorang guru.

Saya sudah mengajar sejak tahun 2001. Awal mula saya menjadi seorang guru, berawal dari saran salah seorang dosen. Saat itu adalah masa saat saya sedang berkonsultasi untuk persiapan skripsi. Beliau mengajukan pertanyaan yang kurang lebih bunyinya "Kamu tidak mau mencoba mengajar?". Pada saat itu saya hanya diam dan akhirnya menjawab dengan ragu "Belum, Bu". Sejujurnya belum terlintas di pikiran sedikitpun untuk menjadi seorang guru. Apalagi latar belakang pendidikan saya sebagai seorang sarjana sastra yang memang tidak terlalu diarahkan untuk menjadi seorang pendidik. Namun pertanyaan itu cukup menggelitik. Saya mulai terpikir, apa rasanya jadi seorang guru, apa saya bisa? Di dorong keingintahuan dan kesukaan saya terhadap tantangan, saya mulai coba-coba untuk mengajar. Dalam pikiran saya, apa salahnya dicoba. Toh, saya juga agak jenuh dengan rutinitas yang saya jalani pada masa itu. Mungkin dengan mengajar, bertemu lingkungan yang berbeda, menghadapi perilaku siswa, dan bertemu orang-orang baru di lingkungan kerja akan menambah wawasan saya.

Alhasil, saya mulai membuat lamaran kerja. Setelah melewati proses rekrutmen, singkat kata, saya berhasil diterima sebagai seorang asisten guru pada sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di kota kelahiran saya. Saya sengaja memilih tempat kerja yang berkaitan dengan bahasa Inggris karena masih berkaitan dengan jurusan yang saya tekuni. Mulailah saya menjalani hari-hari sebagai tenaga pengajar. Mulai dari mempelajari materi yang akan dijelaskan ke siswa, bagaimana cara meng-handle siswa, bekerjasama dalam tim, dan cara menghadapi atasan.

Setahun lamanya saya bekerja disana. Setelah itu, saya mengundurkan diri karena saya memilih untuk menyelesaikan skripsi. Saya merasa agak keteteran apabila menjalani kuliah (walau sudah di semester akhir) sambil bekerja. Dalam masa setahun tersebut, saya merasakan sangat banyak manfaat, pengalaman, dan ilmu yang saya dapatkan. Setelah wisuda, saya mencoba untuk bekerja kembali sebagai guru. Saya berpikir, bidang ini sudah pernah saya jalani, tidak ada salahnya saya perdalam. Sehingga akhirnya, saya menjadi guru hingga saat ini.

Lalu setelah menjadi guru, apakah semua berjalan lancar dan baik-baik saja? Tentu tidak semudah itu. Saya merasakan bagaimana menghadapi siswa yang membantah instruksi saya, complain orangtua, curahan hati siswa berikut orangtuanya, menangani siswa cedera, target pembelajaran yang belum tercapai, gesekan dengan rekan kerja, hingga usaha lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari memberikan les privat. Bisa dibilang cukup berliku-liku. Dalam tenggang waktu sedemikian, semua peristiwa yang memberikan rasa suka duka tersebut, benar-benar menjadi pelajaran yang berharga.

Beberapa kali saya berpindah tempat kerja, dan tiap tempat kerja adalah gudang ilmu yang luar biasa. Mendapat kesempatan training, pelatihan, diskusi, dan lain-lain bisa disebut sebagai tambahan "harta" buat saya sebagai seorang guru. Dan yang paling anyar adalah mendapat pengalaman mengajar di masa pandemi. Kita cukup tahu bahwa pandemi COVID-19 ini memberikan kesulitan bagi banyak orang. Namun, itulah hidup. Selalu ada keseimbangan di dalamnya. Ada sulit, ada mudah. Sulit karena harus mempersiapkan diri untuk lebih menguasai teknologi, update peralihan cara mengajar dari tatap muka langsung menjadi jarak jauh, menggali ilmu baru untuk mengajar secara online, menyiapkan kuota dan gadget yang cukup mumpuni untuk diajak online. Pandemi COVID-19 yang entah kapan akan berakhir ini, membuat hal-hal yang tadinya terasa sulit, mulai jadi terbiasa. 

Saya pribadi, yang tadinya hanya berangkat pagi, mengajar, pulang ke rumah (sesekali dalam setahun ikut pelatihan dari sekolah) mulai kenal dengan klub menulis, online webinar, online training, online workshop, dan aplikasi online lainnya lebih banyak. Perkenalan yang seringkali terjadi tanpa disengaja. Bagaimana bisa disebut tidak sengaja? Karena memang berawal dari ajakan teman dan rasa iseng, penasaran. Mulanya hanya ikut webinar secara online. Lama-kelamaan, rasanya seperti candu. Candu karena semakin banyak belajar, saya jadi merasa semakin kurang ilmu. Saya sering terkagum-kagum melihat narasumber menyampaikan pikiran dan penjelasan dalam beberapa pertemuan online

Akhirnya saya aktif mencari dan mengikuti berbagai pelatihan secara online. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan dimana hanya dengan duduk dan fokus di depan laptop menyala dan didukung jaringan internet, saya bisa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa. Sayapun menjajal berbagai webinar baik dari dalam maupun luar negeri. Webinar dari Cambridge, Oxford, British Council, dan yang lainnya saya jalani sambil terkantuk-kantuk karena pengaruh perbedaan zona waktu. Di sela-sela kesibukan waktu mengurusi siswa secara online, saat jam istirahat kerja seringkali saya gunakan untuk ikut kegiatan-kegiatan tersebut. Demikian juga saat anak dan suami sudah tidur, bahkan saat weekend atau libur sekalipun. Sekitar 1-2 jam masih saya gunakan untuk belajar dan melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan kemampuan saya sebagai seorang guru. Kalau ditanya capek, ya sudahlah. Saya pikir, tidak ada hasil baik yang dicapai tanpa pengorbanan. Yang penting, saya tetap usahakan untuk menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Untungnya suami dan anak juga ikut mendukung apa yang saya lakukan.

Dari berbagai kegiatan itulah, saya menemukan jalan untuk bergabung dengan klub belajar menulis bersama Om Jay, AISEI, dan PSSDM. Tidak saya sangka-sangka, bisa belajar dari para penulis profesional, dapat pelatihan tentang ilmu-ilmu terbaru yang berkaitan dengan pembelajaran untuk siswa dari para ahli. Bahkan jadi ada semangat untuk ikut kegiatan Wardah Inspiring Teacher 2020 bersama Kampus Guru Cikal dan Sekolahmu. Kegiatan ini saya ikuti sejak awal pandemi hingga bulan Desember 2020. Dan pada puncak kegiatan ini, saya berkesempatan untuk berbagi video pembelajaran buatan sendiri dengan para peserta Temu Pendidik Nusantara 7. Dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang mencoba ikut serta dalam lomba menulis di blog yang diselenggarakan oleh AISEI.

Sedikit demi sedikit, mata dan pikiran saya mulai lebih terbuka. Ternyata dunia memang luas dan indah. Tidak terbatas hanya pada sebuah rutinitas. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru selain mengajar. Menulis, membuat podcast, menjadi youtuber, menjadi pembicara pada kegiatan sharing bersama teman. Saya menyesal kenapa tidak menemukannya lebih awal. Namun saya bersyukur bahwa saya tetap bisa meraih kesempatan ini. Dan sekarang, saya sangat menikmati kebebasan menggali potensi diri dan berekspresi seluas-luasnya di luar rutinitas. Kalau boleh menggunakan istilah Stephen Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People, inilah saatnya saya melakukan sharpen the saw. Saya mencoba untuk "mengasah gergaji" agar tidak tumpul dan tetap produktif.

Itulah sepenggal pengalaman saya sebagai seorang guru. Dari apa yang sudah saya lewati, muncul sebuah pikiran bahwa menjadi seorang guru tidak berhenti hanya pada tahap mengajar, tapi tetap perlu banyak belajar. Harapan saya, semoga semua guru bisa meraih apa yang menjadi asanya dalam menjalani profesi sebagai seorang guru, tetap sehat dan sabar dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Sunday, 28 June 2020

Work from Office

Tomorrow will be my first day to come to school. For more or less four months, I have been stayed at home because of this pandemic. It means that I need to adapt with this new normal situation.
The headmistress has reminded us to prepare everything well. We are supposed to bring these following things: liquid soap, hands sanitizer, wet and dry tissue, mask, face shields, snacks, drinking bottle, and even towel and cloth, especially for those who come to school by public transportation. The employees who use public transportation can take a bath and change their clothes in the school toilets.
Going to work means that I have to be at school from 08.00 AM until 03.00 PM. It will be a little bit comfortable for me at the first time because I used to be around my family for four months. We played, did something, or nagged my daughter. That's what me is for 😂
During the work time, all of the employees are going to stay in their own rooms. We are going to have meeting and discuss about everything related with the teaching programmes. We will stay connected each other via online digital tools. The foundation issues this policy in order to handle if there is a problem dealing with the gadgets or the internet connection. It will be easier for the employees to ask for help of the IT team support. Meanwhile, the students are still learning from home at the beginning of this academic year. 
So, let's start with the new beginning. Hopefully all of us stay safe and healthy.

Sunday, 21 June 2020

Kegiatan di Masa Pandemi

Apa yang bisa kita dilakukan di saat pandemi COVID-19 berlangsung? Mau keluar takut tertular. Mau jalan-jalan, tempat wisata pada tutup. Di rumah saja bosan. Mau belanja, uang pas-pasan. Semua dirasa tidak menyenangkan, semua dirasa serba terbatas. Bisa jadi, hal inilah yang dirasakan oleh sebagian orang.
Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Mungkin beberapa kiat yang ditawarkan berikut ini bisa dijadikan alternatif pilihan untuk mengatasi perasaan tidak nyaman tersebut.

Beribadah

Bila pada hari biasa, ibadah seringkali agak terabaikan oleh kesibukan, pada saat pandemi ini bisa dijadikan kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Banyak bersyukur untuk semua nikmat yang masih bisa dirasakan, mohon ampun untuk kesalahan yang pernah dibuat, memperbanyak doa, serta memperbaiki ibadah wajib maupun sunah. Dengan memperbaiki ibadah, semoga kita bisa jadi lebih sabar, tenang, dan diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menghadapi semua kesulitan ini.

Menjaga Kesehatan

Tubuh adalah aset utama untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, kita perlu menjaga kesehatan dengan maksimal. Ada banyak cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk upaya menjaga kesehatan, contohnya: berolahraga dengan teratur, mengkonsumsi makanan bergizi sehat dan seimbang, istirahat cukup, menjaga kebersihan tubuh, dan menjauhkan tubuh dari berbagai asupan zat berbahaya yang tidak bermanfaat sama sekali untuk kesehatan. Khusus untuk masa pandemi ini, tentunya bisa ditambahkan dengan tidak lupa mencuci tangan, mengenakan masker, dan jaga jarak aman dengan orang lain saat beraktivitas.

Melaksanakan aktivitas sehari-hari

Bagi orang-orang yang tetap harus beraktivitas keluar rumah, hendaknya tetap memperhatikan protokol keamanan. Sedangkan bagi orang-orang yang bisa tetap di rumah, lakukan aktivitas rumah seperti biasa. Ada banyak kegiatan rumah tangga yang bisa kita lakukan bersama di rumah. Mulai dari memasak, menyapu, mengepel, merapikan taman, dan lain-lain. Bila mau lebih menantang, gudang ataupun sudut rumah yang selama ini jarang disentuh, bisa dibongkar, dibersihkan, dan ditata ulang. Bila tidak kuat melakukan sendiri, bisa mengajak anggota keluarga untuk bekerja sama setiap hari. 

Upgrade Kemampuan

Bila sedang home learning atau work from home, tentu secara tidak langsung kemampuan dalam bidang terkait tetap terasah. Namun, bila masa libur tiba atau di saat senggang, bisa dimanfaatkan untuk belajar lebih banyak. Pilihlah hal yang menarik hati untuk didalami, agar lebih semangat belajar. Ada banyak webinar, diskusi dan kursus online di berbagai platform. Anda bisa pilih yang berbayar ataupun yang gratis. Beberapa diantaranya menyediakan e-certificate, bagi yang membutuhkan. Tentunya hal ini memberikan keuntungan bagi kita, berupa: ilmu, pengalaman, dan bahkan pengakuan melalui e-certificate.

Silaturrahim

Tidak sepenuhnya benar bila masa pandemi ini benar-benar membuat kita terisolasi. Secara fisik, mungkin iya. Tetapi dengan kecanggihan teknologi saat ini, kita tinggal pilih messaging platforms yang ingin kita gunakan. Mayoritas sudah dilengkapi dengan fitur video call hingga tetap bisa saling bertatap muka walaupun tidak secara langsung. Sedangkan untuk kita dan keluarga di rumah, dengan adanya kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, membuat jadi lebih banyak waktu bertemu dengan anggota keluarga. Biasanya pergi pagi pulang malam, sesampainya di rumah bersih-bersih diri, makan malam, ngobrol sebentar, lalu tidur. Di masa pandemi, ibarat kata kita bisa terus-terusan bertemu dari pagi hingga pagi lagi. Kesempatan seperti ini bisa digunakan untuk berbicara lebih dalam dengan anggota keluarga. Lebih syukur lagi, bila aktivitas "berbicara" ini menjadikan anggota keluarga jadi lebih dekat dan saling memahami. 

Lakukan hobi

Menurut KBBI, secara harafiah, hobi adalah kesenangan yang kita lakukan di masa senggang. Di saat pandemi seperti ini, bila kita punya lebih banyak waktu senggang, bisa kita manfaatkan dengan melakukan hobi kita yang selama ini tertunda karena kesibukan. Hobi yang bisa kita lakukan tentunya yang bisa kita sesuaikan dengan kondisi pandemi. Misalnya membaca, menulis, melukis, dan lain-lain. Nah, bagaimana caranya bila hobi kita merupakan outdoor activities? Mungkin bisa dialihkan dulu ke arah yang masih berkaitan dengan hal tersebut. Buat yang suka shopping, mungkin bisa dialihkan dengan membuka online shop kecil-kecilan. Sedangkan yang suka naik gunung atau travelling, bisa berbagi pengalaman melalui foto dan cerita di media sosial. Setidaknya ini adalah sedikit upaya untuk mengobati kerinduan terhadap hobi tersebut.
Demikianlah beberapa kiat yang bisa kita jadikan pilihan kegiatan selama masa pandemi. Salam sehat dan tetaplah menjaga diri sendiri dan orang sekitar tetap aman.

Monday, 25 May 2020

Sebuah Catatan: Eid Mubarak 1441 H

DYH7

Saat tulisan ini diturunkan, penulis masih dalam suasana "Stay at Home" untuk menghindari bahaya pandemi COVID-19.
Setelah melewati masa puasa Ramadhan dalam situasi pandemi, tak ketinggalan moment Idul Fitri pun harus kita jalani berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Penulis sekeluarga menjalankan ibadah sholat Ied dari rumah saja. Silahturrahim juga dilakukan secara online saja untuk menerapkan social distance. Kami sekeluarga bahkan tidak mempersiapkan kue lebaran. Hanya beberapa menu masakan lebaran yang penulis siapkan, agar tetap terpancar rasa keriangan berlebaran tahun ini di tengah situasi prihatin.
DYH7

DYH7

DYH7

DYH7

Ada rasa yang bercampur aduk antara sedih dan gembira. Sedih karena kondisi yang serba terbatas. Gembira karena sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri sebagai sebuah bentuk kemenangan melawan hawa nafsu. Namun, ada juga rasa takut terhadap situasi pandemi beserta kesulitan yang mengiringinya belum juga usai.
Berhubung penulis juga sedang dalam masa libur kerja, hal ini penulis manfaatkan untuk mengikuti beberapa webinar gratis (pilih yang gratis dulu, untuk pengiritan), dan sepertinya masa libur juga akan penulis gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan tenggat waktu.
Harapan dan doa penulis yang mungkin juga harapan dan doa kita semua agar segera ditemukan solusi yang tepat dalam menghadapi pandemi ini, agar kehidupan kita kembali normal seperti biasa dan kita semua terlindungi dari bahaya penyakit ini. Aamiin.

Friday, 24 April 2020

Sebuah Catatan: Masa Karantina (Pembatasan Sosial Berskala Besar)

Sudah lebih dari satu bulan penulis sekeluarga menjalankan aktivitas dari rumah. Sebagai orangtua yang bekerja, penulis menjalankan pekerjaan dari rumah atau yang dikenal dengan istilah "Work from Home". Sementara itu, anak penulis yang notabene seorang pelajar, tentunya mau tak mau juga harus belajar dari rumah atau "Home Learning".
Masa awal-awal di rumah, secara pribadi, penulis tentunya butuh penyesuaian dalam hal ritme kerja. Walaupun yang namanya bekerja secara online dari rumah, ternyata tetap saja kesibukannya tidak kalah dibanding bekerja menghadapi orang-orang secara langsung. Kenapa bisa demikian? Ya, bisa saja. Karena hal yang tadinya biasa disampaikan secara langsung, sekarang harus dipikirkan bagaimana cara yang tepat untuk disampaikan secara online. Apalagi untuk seorang pengajar seperti penulis, ada berbagai pengalaman baru yang diperoleh selama masa bekerja dari rumah ini. Mulai dari memikirkan cara absensi, mengumpulkan pendapat dari siswa dan orangtua untuk berbagai kondisi yang berbeda, menyampaikan pengumuman, memberikan tugas, penilaian, laporan, hingga konsultasi dengan siswa dan orangtua. Tak ketinggalan pula rapat koordinasi kerja dengan atasan dan rekan kerja. Semua itu kadang-kadang cukup membuat penulis telat makan dan mandi.
Berbagai perburuan aplikasi yang mendukung lancarnya pekerjaanpun mulai dilakukan. Mulai dari membaca informasi dari internet, trial and error aplikasi, dan sharing bersama teman melalui berbagai grup chating. Kadang-kadang saat fokus melakukan suatu pekerjaan, ada saja chat yang menarik perhatian dan butuh dijawab cepat. Bahkan penulis mengalami, handphone error dan panas karena teleconference berkali-kali dalam jangka waktu lumayan lama. Nah, hal ini cukup membuat panik karena solusinya hanya satu, yaitu membeli handphone baru disaat keterbatasan masa pandemi COVID-19 ini. Mau bagaimana lagi, dijalani saja karena dibutuhkan untuk sumber mata pencaharian.
Penulis mulai merasakan penyesuaian setelah kurang lebih tiga minggu di rumah. Apa standarnya? Standar penulis adalah sempat bikin video hiburan dengan teman dan sempat menulis di blog ini. Cukup sederhana bukan?
Apa yang penulis sampaikan, baru menggambarkan satu sisi. Di sisi lain, penulis sekeluarga juga harus beradaptasi dengan berbagai situasi lain yang terjadi saat masa pandemi ini. Situasi yang penulis maksud adalah belanja bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Kalau biasanya penulis bisa memilih merek barang atau jenis bahan makanan tertentu, saat ini, apa yang ada dibeli dan diangkut saja ke rumah, asalkan halal dan bisa digunakan. Karena tidak semua yang penulis butuhkan pasti akan tersedia di pasaran seperti biasa.  
Banyak usaha mulai gulung tikar. Mereka berhenti berproduksi karena karyawan disarankan bekerja dari rumah. Untuk jenis usaha tertentu, pastinya ada bagian-bagian yang tidak bisa dilakukan dari rumah, sehingga gelombang PHK pun sulit untuk dihindari disebabkan usaha sudah tak mampu lagi membiayai karyawan. 
Beberapa orang ada yang beralih profesi menjadi penjual masker, hand sanitizer, dan alat kesehatan yang menjadi kebutuhan cukup vital saat pandemi melanda. 
Secara umum bisa dikatakan hampir semua orang mengalami ketersendatan masalah ekonomi. Mulai dari berkurang atau tidak adanya pemasukan, yang berimbas ke ketidak mampuan mengadakan bahan pangan untuk keluarga. Di beberapa daerah, masyarakat ada yang mendapatkan bantuan baik dari pemerintah maupun donatur. 
Belum lagi standar kebersihan diri dan keluarga setelah keluar rumah. Kita jadi harus mencuci tangan dan bahkan mandi beberapa kali untuk tindak pencegahan terhadap penyebaran virus ini. Penulis sendiri bisa sampai berdebat kecil-kecilan dengan suami karena jadi lebih "ribet" untuk hal standar kebersihan ini. Bahkan suami penulis memilih untuk pergi sendiri bila terpaksa harus keluar rumah untuk membeli kebutuhan keluarga. Dengan alasan, yang bersih-bersih komplit cukup satu orang saja.
Saat tulisan ini disampaikan, penulis sekeluarga bahkan sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 H di tengah situasi pandemi. Semua ibadah yang biasa dilakukan berjamaah terpaksa ditunda dan dilakukan di rumah saja. 
Apapun kejadian yang kita alami saat pandemi ini, semoga segera berlalu. Bantulah para pekerja garda terdepan agar korban tidak terlalu banyak, dengan cara melakukan usaha terbaik agar virus tidak menyebar lebih luas. Mari kita laksanakan tindakan pencegahan yang benar. Tetap berdoa dan optimis agar pikiran positif jadi terjaga. 
Demikianlah sekelumit catatan lain di masa pandemi COVID-19. Salam sehat untuk kita semua. Semoga kehidupan segera kembali normal. Aamiin.

Friday, 7 September 2018

Mengatasi Rasa Takut

 


Takut, adalah rasa yang tidak mungkin tidak pernah dirasakan oleh seorang manusia. Datangnya seringkali tidak tentu waktu dan bisa dimana saja. Secara harfiah, dalam KBBI, takut diartikan sebagai merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana, ataupun bisa juga disebut sebagai tidak berani.

Ada bermacam - macam hal yang kita takuti. Takut miskin, takut ketahuan, takut gagal, dan lain - lain. Saya sendiri termasuk salah seorang yang penuh ketakutan dalam hidup. Takut saat harus merantau. Jauh dari orangtua, teman - teman, lingkungan, rutinitas, dan kemudahan yang sudah terlalu terbiasa sejak lahir. Satu pertanyaan besar yang mendukung rasa takut itu adalah "Bagaimana saya bisa survive?" Namun seiring dengan waktu, rasa takut itu mulai tersisihkan oleh rasa lain yang lebih urgent, yaitu nekad karena butuh. Butuh kerjaan, harus nekad jalan sendiri saat di interview. Walau tidak tahu lokasi, tanya kanan - kiri, akhirnya sampai. Mulai lebih berani menghadapi orang - orang baru beserta berbagai macam karakternya dan permasalahan yang ditimbulkan.

Ketakutan lain yang saya rasakan adalah saat ingin mendaki gunung Bromo. Sampai setengah tua begini, ini adalah pertama kalinya saya mendaki gunung. Itupun karena mengikuti acara di tempat kerja. Untuk menghadapinya, saya mempersiapkan obat-obatan standar yang biasa digunakan saat perjalanan jauh (maklum sudah mulai tua, jadi bawaannya obat-obatan). Sebelumnya, tidak pernah terlintas di pikiran untuk mendaki gunung. Yang muncul di kepala saat mendengar cerita teman - teman yang sering naik gunung adalah, buang air dimana, ada hal - hal aneh tidak di hutan, waduh, ribet sekali pikiran saya kalau sudah jauh dari rumah.

Hingga saat itu tiba, sekitar jam 01.30 WIB pagi, saya dan teman - teman sekamar sudah mulai bersiap - siap. Bagi yang kuat dingin, boleh mandi dulu. Lalu berkumpul dengan tim yang lain, berangkat dengan jeep yang sudah disediakan untuk masing - masing kelompok. Sesampainya disana, perjalanan naik gunung dimulai dengan melihat sunrise. Lalu diteruskan ke bagian pasir berbisik. Lokasi ini kami tempuh dengan menggunakan jeep yang stand by di lokasi. Sesampainya di gunung Bromo, untuk menuju ke puncak, barulah ditempuh dengan berjalan kaki. Beberapa ada yang menggunakan jasa penyewaan kuda. Sementara saya, lebih memilih untuk berjalan kaki (selain untuk menurunkan kolesterol, sekalian ingin uji coba daya tahan tubuh, masih kuat atau tidak).

Sambil sesekali terengah - engah, istirahat, dan perasaan berdebar - debar tidak karuan karena khawatir pingsan di jalan, saya tetap melanjutkan perjalanan yang diusahakan sesantai mungkin. Sambil dalam hati terus berdoa, Ya Allah, mohon bantuan karena sendirian. Teman - teman yang ikut berangkat, sudah entah dimana. Sayang juga kesempatan baru dan bagus menurut saya jika dilewati begitu saja, tanpa naik ke puncak. Begitu berada tepat dikaki gunung, rasa ragu ingin naik atau tidak makin kuat. Khawatir kalau terjadi apa - apa siapa yang membantu. Akhirnya dengan menguatkan doa, tekad, sambil terbayang wajah suami yang biasanya menyemangati, saya melanjutkan naik tangga ke puncak Bromo hingga akhirnya, berhasil sampai di atas. Pakai selfie pula. Setelah merasa cukup, saya pun  mulai turun dengan perasaan yang benar - benar lega. Ada air mata yang sedikit tertumpah karena merasakan bantuan Allah dalam langkah yang "Sendirian". Saya benar - benar merasakan bahwa ternyata rasa takut adalah salah satu penghalang besar dalam langkah ini. Bukan usaha yang mudah juga buat saya mengatasinya, apalagi jauh dari siapapun yang saya kenal saat itu. Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi hasil pergulatan perasaan orang memang berbeda - beda dan itulah yang saya rasakan.

Saya melanjutkan perjalanan turun hingga mencapai tempat pemberhentian jeep dan kembali ke penginapan untuk bersiap pulang ke Jakarta. Sesampai di rumah, dengan sedikit bergaya, saya mengucapkan "Pa, naik gunung lagi yuk, sekeluarga." Suamiku tersayang hanya menjawab dengan senyuman, sedangkan anakku yang berumur 8 tahun berkata "Tidak mau".