Friday, 12 June 2020

Kegiatan Anak Selama Masa Pandemi

Sudah jalan empat bulan kegiatan home learning dilakukan di Indonesia. Berarti, kurang lebih selama itu pula para siswa dan guru tidak hadir secara langsung untuk melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Semua kegiatan pembelajaran tersebut dilakukan secara online ataupun dengan metode yang disesuaikan. Bila dilakukan secara online, pihak sekolah akan memilih platform yang sesuai dengan kebutuhan dan keamanan data guru, murid serta orangtua. Namun, bila metode online terhalang oleh beberapa hal, tentunya dicarikan solusi dengan cara seperti orangtua menjemput tugas anaknya ke sekolah langsung. Itupun tidak dilakukan setiap hari, namun contohnya sekali sebulan. Para gurunya sudah mempersiapkan terlebih dahulu tugas yang akan diserahkan ke orangtua murid. Baik materi, petunjuk pengerjaan, maupun waktu pengumpulan. 
Karena aspek yang ingin disentuh dalam pembelajaran tentunya tidak hanya kognitif, tapi juga psikomotor dan afektif, maka tugas yang diberikanpun tentunya disederhanakan namun dibuat tetap menarik dan memberi nilai pendidikan. Tidak melulu berupa tugas tertulis menjawab soal, tapi juga dikemas dalam bentuk permainan, hasil karya, dan lain-lain yang bisa dikerjakan dengan mudah dari rumah, agar tujuan pendidikan tetap bisa tercapai. 
Disinilah dituntut kerjasama yang ideal antara guru, murid, dan orangtua. Ideal dalam artian, guru tidak hanya fokus dengan memberi instruksi, tapi juga memikirkan bagaimana instruksi tersebut bisa tersampaikan walaupun dipisahkan oleh jarak. Orangtuapun diharapkan untuk ikut mendukung, baik mengawasi maupun membantu menyampaikan materi pembelajaran. Jangan sampai ada salah satu yang merasa terbebani. Dalam hal ini, komunikasi antara ketiga pihak tersebut memang sangat perlu dibuat seefektif mungkin, sehingga kegiatan home learning ini tetap memberikan hasil yang lumayan maksimal. 
Berikut ini adalah beberapa contoh hasil kegiatan home learning:






Dibalik semua hiruk pikuk kegiatan home learning yang sudah berlangsung, bagaimanapun ada satu hal tetap perlu kita jaga, yaitu kesehatan baik fisik, mental, dan spiritual. Walaupun kondisi saat ini serba sulit, gerak langkahpun serba terbatas, hendaknya kita tetap berusaha untuk menjaga kesehatan ketiga hal tersebut. Hal ini penting agar kita bisa tetap positif memandang kehidupan ini.

Tuesday, 2 June 2020

Ikan Tongkol Orak Arik

DYH7

Bahan:

  • 250 gram Ikan tongkol segar
  • Kol secukupnya (diiris)

Bumbu:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Bawang Bombay
  • Jahe
  • Laos
  • Kunyit
  • Cabe merah
  • Sereh
  • Tomat merah
  • Daun bawang
  • Seledri
  • Ketumbar bubuk
  • Garam
  • Kecap
  • Minyak goreng untuk menumis.

Cara memasak:

  • Rebus ikan tongkol dengan sedikit air.
  • Setelah matang, di suwir-suwir.
  • Air rebusan tongkol jangan dibuang. Sisihkan.
  • Iris bawang merah, bawang putih, bawang bombay, cabe merah, sereh, daun bawang, dan seledri.
  • Haluskan jahe, laos, dan kunyit.
  • Panaskan minyak. Tumis irisan bawang merah, bawang putih, bawang bombay, cabe merah, sereh, daun bawang, dan seledri serta bumbu halus dan ketumbar bubuk. 
  • Setelah wangi, masukkan ikan yang sudah disuwir beserta air rebusan ikan. 
  • Masukkan irisan kol dan tomat.
  • Masak hingga cukup matang.
  • Tambahkan garam dan kecap sesuai selera.
  • Matikan kompor.
  • Masakan siap untuk dihidangkan.

Saturday, 30 May 2020

Belajar Memasak

Salah satu kegiatan yang penulis lakukan bersama anak saat "Stay at Home" adalah memasak. Ini adalah pengalaman memasak pertama buat anak penulis. Oleh karena itu, kita memilih menu yang tidak terlalu sulit untuk dia pelajari. Kita memutuskan untuk memasak agar-agar biskuit marie. 
Berhubung ini adalah pelajaran memasak awal, penulis masih banyak memberikan bantuan. Semoga dengan semakin sering berlatih, kelak kemampuan memasaknya jadi semakin baik.

Monday, 25 May 2020

Sebuah Catatan: Eid Mubarak 1441 H

DYH7

Saat tulisan ini diturunkan, penulis masih dalam suasana "Stay at Home" untuk menghindari bahaya pandemi COVID-19.
Setelah melewati masa puasa Ramadhan dalam situasi pandemi, tak ketinggalan moment Idul Fitri pun harus kita jalani berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Penulis sekeluarga menjalankan ibadah sholat Ied dari rumah saja. Silahturrahim juga dilakukan secara online saja untuk menerapkan social distance. Kami sekeluarga bahkan tidak mempersiapkan kue lebaran. Hanya beberapa menu masakan lebaran yang penulis siapkan, agar tetap terpancar rasa keriangan berlebaran tahun ini di tengah situasi prihatin.
DYH7

DYH7

DYH7

DYH7

Ada rasa yang bercampur aduk antara sedih dan gembira. Sedih karena kondisi yang serba terbatas. Gembira karena sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri sebagai sebuah bentuk kemenangan melawan hawa nafsu. Namun, ada juga rasa takut terhadap situasi pandemi beserta kesulitan yang mengiringinya belum juga usai.
Berhubung penulis juga sedang dalam masa libur kerja, hal ini penulis manfaatkan untuk mengikuti beberapa webinar gratis (pilih yang gratis dulu, untuk pengiritan), dan sepertinya masa libur juga akan penulis gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan tenggat waktu.
Harapan dan doa penulis yang mungkin juga harapan dan doa kita semua agar segera ditemukan solusi yang tepat dalam menghadapi pandemi ini, agar kehidupan kita kembali normal seperti biasa dan kita semua terlindungi dari bahaya penyakit ini. Aamiin.

Friday, 24 April 2020

Sebuah Catatan: Masa Karantina (Pembatasan Sosial Berskala Besar)

Sudah lebih dari satu bulan penulis sekeluarga menjalankan aktivitas dari rumah. Sebagai orangtua yang bekerja, penulis menjalankan pekerjaan dari rumah atau yang dikenal dengan istilah "Work from Home". Sementara itu, anak penulis yang notabene seorang pelajar, tentunya mau tak mau juga harus belajar dari rumah atau "Home Learning".
Masa awal-awal di rumah, secara pribadi, penulis tentunya butuh penyesuaian dalam hal ritme kerja. Walaupun yang namanya bekerja secara online dari rumah, ternyata tetap saja kesibukannya tidak kalah dibanding bekerja menghadapi orang-orang secara langsung. Kenapa bisa demikian? Ya, bisa saja. Karena hal yang tadinya biasa disampaikan secara langsung, sekarang harus dipikirkan bagaimana cara yang tepat untuk disampaikan secara online. Apalagi untuk seorang pengajar seperti penulis, ada berbagai pengalaman baru yang diperoleh selama masa bekerja dari rumah ini. Mulai dari memikirkan cara absensi, mengumpulkan pendapat dari siswa dan orangtua untuk berbagai kondisi yang berbeda, menyampaikan pengumuman, memberikan tugas, penilaian, laporan, hingga konsultasi dengan siswa dan orangtua. Tak ketinggalan pula rapat koordinasi kerja dengan atasan dan rekan kerja. Semua itu kadang-kadang cukup membuat penulis telat makan dan mandi.
Berbagai perburuan aplikasi yang mendukung lancarnya pekerjaanpun mulai dilakukan. Mulai dari membaca informasi dari internet, trial and error aplikasi, dan sharing bersama teman melalui berbagai grup chating. Kadang-kadang saat fokus melakukan suatu pekerjaan, ada saja chat yang menarik perhatian dan butuh dijawab cepat. Bahkan penulis mengalami, handphone error dan panas karena teleconference berkali-kali dalam jangka waktu lumayan lama. Nah, hal ini cukup membuat panik karena solusinya hanya satu, yaitu membeli handphone baru disaat keterbatasan masa pandemi COVID-19 ini. Mau bagaimana lagi, dijalani saja karena dibutuhkan untuk sumber mata pencaharian.
Penulis mulai merasakan penyesuaian setelah kurang lebih tiga minggu di rumah. Apa standarnya? Standar penulis adalah sempat bikin video hiburan dengan teman dan sempat menulis di blog ini. Cukup sederhana bukan?
Apa yang penulis sampaikan, baru menggambarkan satu sisi. Di sisi lain, penulis sekeluarga juga harus beradaptasi dengan berbagai situasi lain yang terjadi saat masa pandemi ini. Situasi yang penulis maksud adalah belanja bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Kalau biasanya penulis bisa memilih merek barang atau jenis bahan makanan tertentu, saat ini, apa yang ada dibeli dan diangkut saja ke rumah, asalkan halal dan bisa digunakan. Karena tidak semua yang penulis butuhkan pasti akan tersedia di pasaran seperti biasa.  
Banyak usaha mulai gulung tikar. Mereka berhenti berproduksi karena karyawan disarankan bekerja dari rumah. Untuk jenis usaha tertentu, pastinya ada bagian-bagian yang tidak bisa dilakukan dari rumah, sehingga gelombang PHK pun sulit untuk dihindari disebabkan usaha sudah tak mampu lagi membiayai karyawan. 
Beberapa orang ada yang beralih profesi menjadi penjual masker, hand sanitizer, dan alat kesehatan yang menjadi kebutuhan cukup vital saat pandemi melanda. 
Secara umum bisa dikatakan hampir semua orang mengalami ketersendatan masalah ekonomi. Mulai dari berkurang atau tidak adanya pemasukan, yang berimbas ke ketidak mampuan mengadakan bahan pangan untuk keluarga. Di beberapa daerah, masyarakat ada yang mendapatkan bantuan baik dari pemerintah maupun donatur. 
Belum lagi standar kebersihan diri dan keluarga setelah keluar rumah. Kita jadi harus mencuci tangan dan bahkan mandi beberapa kali untuk tindak pencegahan terhadap penyebaran virus ini. Penulis sendiri bisa sampai berdebat kecil-kecilan dengan suami karena jadi lebih "ribet" untuk hal standar kebersihan ini. Bahkan suami penulis memilih untuk pergi sendiri bila terpaksa harus keluar rumah untuk membeli kebutuhan keluarga. Dengan alasan, yang bersih-bersih komplit cukup satu orang saja.
Saat tulisan ini disampaikan, penulis sekeluarga bahkan sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 H di tengah situasi pandemi. Semua ibadah yang biasa dilakukan berjamaah terpaksa ditunda dan dilakukan di rumah saja. 
Apapun kejadian yang kita alami saat pandemi ini, semoga segera berlalu. Bantulah para pekerja garda terdepan agar korban tidak terlalu banyak, dengan cara melakukan usaha terbaik agar virus tidak menyebar lebih luas. Mari kita laksanakan tindakan pencegahan yang benar. Tetap berdoa dan optimis agar pikiran positif jadi terjaga. 
Demikianlah sekelumit catatan lain di masa pandemi COVID-19. Salam sehat untuk kita semua. Semoga kehidupan segera kembali normal. Aamiin.